PRODUK OLAHAN HASIL FERMENTASI “KEJU”

PRODUK OLAHAN HASIL FERMENTASI

“KEJU”

 

 

 

Keju adalah produk susu yang paling banyak dikonsumsi. Secara umum pembuatan keju diawali dari pasteurisasi susu, kemudian pemberian penggumpal, biasanya berupa enzim yang berasal dari rennet atau mikroba yang dapat mengasamkan susu. Setelah beberapa jam akan terpisah menjadi gumpalan besar dan bagian yang cair. Gumpalan ini kemudian dipotong-potong, dipanaskan, dan dipress agar cairan yang terkandung di dalamnya banyak yang keluar. Gumpalan dibentuk dan dicelupkan (atau direndam) air garam atau ditaburi garam, untuk membunuh bakteri yang merugikan, dan diberi jamur. Dan terakhir calon keju ini dimasakkan pada kondisi tertentu. Kondisi serta lamanya pemasakkan tergantung dari jenis keju yang dibuat. Proses penggumpalan susu pada awalnya menggunakan rennet sapi, bovine (dari keluarga sapi), serta babi. Namun karena pertimbangan kehalalan produk serta segi ekonomisnya, sehingga mulai dikembangkan pengganti rennet dengan memanfaatkan peranan dari mikroba yang dapat mengasamkan susu. Mikroorganisme ini antara lain bakteri, yeast, dan mold.

Ada dua belas strain bakteri penggumpal susu, yang termasuk dalam delapan spesies yaitu, Brevibacterium linens, Microbacterium folioforum, Arthrobacter arilaitensis, Staphylococcus cohnii, Staphylococcus equorum, Brachybacterium sp., Proteus vulgaris dan Psychrobacter sp.. Spesies yeast yang umumnya digunakan dalam pembuatan keju yaitu Yarrowia lipolytica, Geotrichum candidum, dan Kluyveromyces lactis. Pada literatur lain, menjelaskan bakteri yang berperan dalam proses penggumpalan susu dari gram positif antara lain bakteri Staphylococcus, Micrococcus, dan Coryneform. Sedangkan dari golongan gram negatif antara lain Pseudomonas, Xanthomonas, Enterobacter, Hafnia, dan Proteus. Namun penggunaan Proteus jarang digunakan karena umumnya menimbulkan kontaminan. Penggunaan kominitas mikroba ini akan berpengaruh terhadap karakteristik baik bentuk,  tekstur, rasa dan aroma keju yang dihasilkan. Terutama pada keju limburger, numster dan tilsiter yang menggunakan mikroba berbeda-beda. Kultur starter dari bakteri jenis B. linens, ditambahkan pada susu saat proses penggumpalan, kemudian gumpalan susu diberi penggaraman dan dipress agar cairan yang masih terdapat pada gumpalan dapat dikeluarkan. Setelah itu keju diberi parafin dan disimpan selama 12 minggu pada suhu 4-5˚C. Saat proses pembuatan keju B. linens memproduksi enzim extra seluler proteolitik yang mengandung proteinase dan yang digunakan pada proses pemasakan tergantung dari dosis enzim dalam rasio aktivitas peptidase dan proteinase, penyebaran distribusi enzim pada susu, spesifitas substrat, dan kemungkinan enzim yang hilang pada saat penggaraman atau pengepressan dan saat naiknya suhu saat pemasakkan. Dari hasil penelitian, keju yang dihasilkan dari penambahan bakteri B. linens, memiliki rasa, aroma dan tekstur yang sama dengan keju kontrol. Namun pada keju yang diuji kandungan trichloro acetic acid (TCA)-nitrogen terlarut dan phosphotungstic acetic acid (PCA)-nitrogen terlarut, meningkat pada saat pembuatan keju dan casein terdegradasi secara luas. Pada saat pembuatan keju casein akan terdegradasi dan proses ini akan ketika semua casein terdegradasi (Gosh, et al. 2003).

Kenaikan kandungan aromatik yang terdapat pada keju umumnya berasal dari tiga jalur metabolisme antara lain katabolisme laktosa dan asam organik, katabolisme lipid, dan katabolisme protein. Aktivator dari ketiga jalur metabolisme ini yaitu enzim endogenous bawaan dari susu, enzim penggumpal, dan enzim yang berfungsi dalam proses pemasakan dan pembentukan tekstur keju, yang berasal dari mikroba. Enzim dari mikroba yang mendegradasi asam amino antara lain, deaminase, dekarboksilase, trans aminase, lyase, dan dehidratase. Reaksi ini akan menghasilkan amina, aldehide, alkohol, asam, dan sulfur. Pemecahan asam lemak akan memproduksi ester metil keton, secondary alkohol. Rasa dan aroma yang terbentuk dari ester dan kandungan sulfur.

Ester yang dihasilkan oleh bakteri P. vulgaris dan Psychrobacter sp. Berpengaruh terhadap aroma keju. Kedua bakteri tersebut menghasilkan acetic acid 2-phenylethyl esters dan propanoic. Sehingga keduanya berperan penting pada pembuatan aroma keju gorgonzola dengan proses pemasakkan selama 12 bulan. Pada Brachybacterium sp. Ditemukan hexanoic acid ethyl ester, ini penting dalam pembuatan keju gorgonzola, grana padano, pecorino dan regusano (jenis-jenis keju).

Selain ester, golongan keton juga berperan penting dalam membentuk aroma keju, terutama methyl ketone, ini mempengaruhi rasa dari produk-produk susu dan juga aroma dari keju terutama dari jenis blue-veined. Keton umumnya diproduksi dari aktivitas enzimatik dari mold, namun dari salah satu hasil penelitian dari Deetae et al (2007) diketahui bahwa bakteri P. vulgaris dan Brachybacterium sp. Mampu memproduksi 2-alkanone yang mengandung atom karbon, 2-pentanone, 2-heptanone, 2-nonanone, dan 2-undecanone, kandungan ini membentuk aroma dari jenis keju roquefort, “Bleu des causses” dan “Bleu d’Avergne”. Aroma yang terdapat pada blue cheese berasal dari methyl ketone, 2-oktanone, 2-nonanone, 2-decanone, dan 2-undecanone yang berasosiasi dengan aroma buah, dan bunga. Pada keju cheddar, aromanya dari 2-butanone yang menyebabkan aroma seperti butterscotch, yang diketahui sebagai aroma yang khas pada cheddar, ini diproduksi oleh P. vulgaris yang berasosiasi dengan B. linens dan M. foliorum. Selain itu ada jenis-jenis keton lain yang diproduksi oleh bakteri asam laktat yang berperan dalam pembentukan aroma keju. Volatile sulphur compounds (VSC) juga berperan penting dalam membentuk aroma keju. Peranan VSC terdapat pada bermacam-macam tipe keju misalnya parmesan, cheddar, dll. Mikroba B.linens, M. Foliorum, P. Vulgaris, dan Psychrobacter sp.  berperan penting dalam produksi VSC.

Degradasi enzimatik dari L-methionine dan formasi subsequent dari Volatile Sulphur compounds (VSC) berperan dalam pengembangan karakeristik aroma beberapa keju. (Cholet, et al. 2008). Methanethiol (MTL) merupakan VSC yang umumnya ditemukan pada proses pemasakan keju. Ini juga merupakan prekursor aroma sulfur yang lain seperti dimethyl sulfida (DMDS), dimethyl trisulfida (DMTS), dan S-methylthioesters. Aktivitas L-methionine aminotransferase pada P. vulgaris dan strain Psychrobacter. L-methionine terdegradasi menjadi methantiol selama jalur transaminasi yang diikuti oleh aktifitas enzimatik dimetiolasi 4-methylthio-2-ketobutyric acid (KMBA), atau perubahan kimia dari KMBA menjadi methantiol (MTL).

Selain pada bakteri P. vulgaris dan Psychrobacter sp., dari golongan yeast, Yarrowia lipolytica juga dapat menghasilkan dan mengubah L-methionine menjadi VSC yang mempengaruhi rasa pada beberapa keju. Namun Y. Lipolytica tidak dapat mengasimilasi laktat ketika ada L-methionine pada media ”calon” keju. Sehingga dilakukan modifikasi genetik pada gen-gen yang mengatur transkripsi enzim katabolisme L-methionine dan metabolisme piruvat yang berperan dalam degradasi L-methionine. Sehingga diperoleh yeast dengan kemampuan meregulasi L-methionine yang kuat dan mengandung jenis dan jumlah VSC yang besar, seperti methanetiol dan produk autooksidasi (dimethyl disulfida dan dimethyl trisulfida) (Cholet, et al. 2008).

Selain gen-gen yang mengatur sintesis enzim, enzim itu sendiri juga ada yang dimodifikasi agar dapat melakukan proses pembuatan keju seperti yang diharapkan. Enzim yang dapat dimodifikasi yaitu L- dan D-lactic acid dan asam lemak. Enzim-enzim ini berperan dalam proses pembuatan keju cheddar. Level lipolytic dari enzim yang telah dimodifikasi, lebih tinggi dari keju cheddar biasa. Penambahan exogenous asetat, laktat, dan butirat, juga mengindikasikan bahwa enzim yang telah dimodifikasi dapat membentuk karakeristik rasa yang spesifik dan mengurangi pH produk. Jadi produksi dari enzim pada keju cheddar, yang telah dimodifikasi mampu meningkatkan manipulasi dari produk akhir glycolysis (laktat, propionat, dan asetat) dan lipolysis untuk meningkatkan kualitas produk pada aplikasi yang spesifik. (Kilcawley, et al, 2001). Modifikasi enzim yang diperoleh dari Lactobacillus casei ssp. Ketika ditambahkan Neutrase mampu mengurangi rasa pahit pada keju cheddar (Najafi dan Lee, 2007).

Menurut Novikova dan Ciprovica (2009), pengembangan rasa dari keju merupakan proses yang kompleks dimana enzim dari susu, rennet, kultur starter dan mikroba tambahan yang meningkatkan degradasi protein susu, lemak dan karbohidrat. Variasi bakteri asam laktat non starter (NSLAB) dan penyebarannya pada gumpalan keju mempengaruhi varietas, proses pembuatan, dan kondisi pemasakan keju. Pembuatan keju dengan menggunakan Lactobacillus spp. Dihasilkan keju yang menghasilkan 30 aroma selama proses pemasakan.

Penelitian yang dilakukan oleh Hynes, et al (2002) menunjukkan sepuluh strain dari Lactobacillus yang ditambahkan pada proses pembuatan keju mampu mempengaruhi proses pemasakan keju. Hal itu juga didukung oleh hasil penelitian dari Gummala dan Broadbent (1999), bahwa catabolisme Trp dari Lactobacillus helveticus dan L. Casei yang ditambahkan pada saat starvasi karbohidrat dan menjelang proses pemasakan, akan mempengaruhi rasa dari keju yang dihasilkan. Enzim yang di ekstrak dari Lactobacillus dapat meningkatkan reaksi transaminasi dan dehidrogenasi. Enzim dari Lactobacillus mengandung triptofan dekarboksilase. Degradasi triptofan akan mempengaruhi formasi kandungan aromatik. Selain enzim-enzim yang berperan aktif dalam proses pemasakan keju, perlakuan fisik juga mempengaruhi. Hasil penelitian dari Tarakci dan Kucukoner (2006) menunjukkan bahwa pembungkusan kedap udara pada saat pemasakan keju menyebabkan perubahan kemampuan lipolysis dan proteolysis serta meningkatnya kandungan garam dan kelembutan keju.

Selain perlakuan fisik pada keju saat pemasakan, perlakuan fisik pada enzim juga mempengaruhi aktifitas enzim sehingga berdampak juga mempengaruhi proses pembuatan keju. Salah satu teknik penggunaan enzim pada pembuatan keju,yaitu dengan metode enkapsulasi. Metode ini bertujuan mengurangi hilangnya enzim saat proses penggumpalan, pemisahan cairan, rusaknya enzim karena perlakuan fisik atau distribusi enzim yang tidak merata pada susu. Melalui mekanisme enkapsulasi, enzim akan ”dibungkus” dan dilepas pada saat tertentu saat enzim benar-benar dibutuhkan aktifitasnya. Pada penelitian Kailasapathy dan Lam (2004), enzim yang di-enkapsulasi yaitu enzim protease dengan menggunakan kapsul K-carragenan, gellan, dan high melting fat fraction of milk fat (HMFF). Dari ketiga jenis kapsul tersebut ternyata enzim yang di encapsulasi dengan K-carragenan yang menunjukkan aktifitas proteolysis tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa K-carragenan mampu melindungi protease selama proses pembuatan keju sehingga pada saat aktifitas protease diperlukan, enzim dapat dilepaskan dari kapsul dan masih dapat bereaksi dengan baik. Sehingga keju dapat terbentuk dengan sempurna.

Untuk setiap keju memiliki perlakuan yang berbeda dalam pembuatannya, berikut ini adalah proses manufaktur dalam membuat keju:

  1. 1.       Pasteurisasi

Sebelum pembuatan keju yang sesungguhnya dimulai, susu biasanya menjalani perlakuan pendahuluan yang dirancang untuk menciptakan kondisi optimum untuk produksi. Susu yang diperuntukkan untuk tipe keju yang memerlukan pematangan lebih dari sebulan sebenarnya tidak perlu dipasteurisasi, tetapi biasanya tetap dipasteurisasi. Susu yang diperuntukkan untuk keju mentah (keju segar) harus dipasteurisasi. Hal ini mengindikasikan bahwa susu keju untuk tipe yang membutuhkan periode pematangan lebih dari sebulan tidak harus dipasteurisasi di kebanyakan negara.

Susu yang diperuntukkan untuk Emmenthal, Parmesan dan Grana asli, beberapa tipe keju ekstra keras, tidak boleh dipanaskan melebihi 40°C, agar tidak mempengaruhi rasa, aroma, dan pengeluaran whey. Susu yang diperuntukkan untuk keju tipe ini biasanya berasal dari peternakan pilihan dengan inspeksi ternak secara rutin oleh dokter hewan.  Walaupun keju terbuat dari susu yang tidak terpasteurisasi diyakini memiliki rasa dan aroma lebih baik, kebanyakan produser (kecuali pembuat keju tipe ekstra keras) mempasteurisasi susu, karena kualitas susu yang tidak dipasteurisasi jarang dapat dipercaya sehingga mereka tidak mau mengambil risiko untuk tidak mempasteurisasinya.

Pasteurisasi harus cukup untuk membunuh bakteri yang dapat mempengaruhi kualitas keju, misalnya coliforms, yang bisa membuat “blowing” (perusakan tekstur) lebih dini dan rasa tidak enak. Pateurisasi reguler pada 72 – 73°C selama 15 – 20 detik paling sering dilakukan. Meskipun demikian, mikroorganisme pembentuk spora (spore-forming microorganism) yang dalam bentuk spora, tahan terhadap pasteurisasi dan dapat menyebabkan masalah serius selama proses pematangan. Salah satu contohnya adalah Clostridium tyrobutyricum, yang membentuk asam butirat dan volume gas hidrogen yang besar dengan memfermentasi asam laktat. Gas ini menghancurkan tekstur keju sepenuhnya (“blowing”), selain itu asam butirat juga tidak enak rasanya.

Perlakuan panas yang lebih sering akan mengurangi risiko seperti tersebut di atas, tetapi juga akan merusak sifat-sifat umum keju yang terbuat dari susu, sehingga digunakan cara lain untuk mengurangi bakteri tahan panas. Secara tradisional, bahan-bahan kimia tertentu telah ditambahkan dalam susu keju sebelum produksi. Hal ini untuk mencegah “blowing” dan perkembangan rasa tidak enak yang disebabkan oleh bakteri tahan panas dan pembentuk spora (terutama Clostridium tyrobutyricum). Bahan kimia yang paling sering digunakan adalah sodium nitrat (NaNO3), tetapi pada produksi keju Emmenthal , hidrogen peroksida (H2O2) juga digunakan. Meskipun demikian, karena penggunaan bahan kimia telah banyak dikritik, maka cara mekanis untuk mengurangi jumlah mikroorganisme yang tidak diinginkan telah diadopsi, terutama di negara-negara dimana penggunaan inhibitor kimia dilarang.

 

  1. 2.      Biakan Biang

Biakan biang merupakan faktor penting dalam pembuatan keju; biakan ini memiliki beberapa peran.

Dua tipe utama biakan yang digunakan dalam pembuatan keju:

  1. biakan mesophilic dengan suhu optimum antara 20 dan 40 °C
  2. biakan thermophilic yang berkembang sampai suhu 45 °C

Biakan yang paling sering digunakan adalah biakan turunan campuran (mixed-strain), dimana dua atau lebih turunan bakteri mesophilic dan thermophilic berada dalam simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan. Biakan ini tidak hanya memproduksi asam laktat tetapi juga komponen aroma dan CO2. Karbondioksida sangat penting untuk menciptakan rongga-rongga di tipe keju butiran dan tipe “mata bundar (round-eyed) ”. Contohnya keju Gouda, Manchego dan Tilsiter dari biakan mesophilic dan Emmenthal dan Gruyère dari biakan thermophilic .

Biakan turunan tunggal (single-strain) terutama digunakan ketika obyek dipakai untuk mengembangkan asam dan berkontribusi terhadap degradasi protein, misalnya pada keju Cheddar dan tipe keju yang sejenis.

Tiga sifat biakan biang yang paling penting dalam pembuatan keju yaitu:

  1. kemampuan memproduksi asam laktat
  2.  kemampuan memecah protein dan, jika memungkinkan,
  3.  kemampuan memproduksi karbondioksida

Tugas utama biakan adalah mengembangkan asam dalam dadih

Ketika susu mengental, sel-sel bakteri terkonsentrasi dalam koagulum dan kemudian dalam keju. Perkembangan asam menurunkan pH yang penting untuk membantu sineresis (kontraksi koagulum disertai dengan pengurangan whey). Selanjutnya, garam kalsium dan phosphor dilepaskan, yang mempengaruhi konsistensi keju dan membantu meningkatkan kekerasan dadih.

Fungsi penting lain yang dilakukan oleh bakteri pemroduksi asam adalah menekan bakteri yang tahan pasteurisasi atau rekontaminasi bakteri yang membutuhkan laktosa atau tidak bisa mentolerir asam laktat. Produksi asam laktat berhenti ketika semua laktosa dalam keju (kecuali pada keju tipe lembut) telah terfermentasi. Biasanya fermentasi asam laktat merupakan proses yang relatif cepat. Pada beberapa tipe keju, seperti Cheddar, fermentasi harus lengkap sebelum keju dipres, dan pada tipe lain dalam seminggu. Jika biakan juga mengandung bakteri pembentuk CO2, pengasaman dadih disertai dengan produksi karbondioksida, melalui aksi bakteri pemfermentasi asam sitrat. Biakan turunan campuran dengan kemampuan mengembangkan CO2 sangat penting untuk produksi keju dengan tekstur lubang-lubang bundar atau seperti bentuk mata yang tidak beraturan. Gas yang berkembang awalnya terlarut dalam fase moisture keju; ketika larutan menjadi jenuh, gas dilepaskan dan membentuk mata-mata. Proses pematangan pada keju keras dan semi-keras merupakan efek kombinasi proteolitik dimana enzim asli dari susu dan dari bakteri dalam biakan, bersama dengan enzim rennet, menyebabkan dekomposisi protein.

 

  1. 3.      Penambahan lain sebelum pembuatan dadih

Kalsium Klorida (CaCl2 )

Jika susu untuk pembuatan keju merupakan kualitas rendah, maka koagulum akan halus. Hal ini menyebabkan hilangnya “ fines ” (kasein) dan lemak, serta sineresis yang buruk selama pembuatan keju.

5-20 gram kalsium klorida per 100 kg susu biasanya cukup untuk mencapai waktu koagulasi yang konstan dan menghasilkan kekerasan koagulum yang cukup. Kelebihan penambahan kalsium klorida bisa membuat koagulum begitu keras sehingga sulit untuk dipotong. Untuk produksi keju rendah lemak, dan jika secara sah diijinkan, disodium fosfat (Na2PO4), biasanya 10-20 g/kg, bisa kadang-kadang ditambahkan dalam susu sebelum kalsium klorida ditambahkan. Hal ini meningkatkan elastisitas koagulum karena pembentukan koloid kalsium fosfat (Ca3(PO4)2), yang akan memiliki efek hampir sama dengan tetesan lemak susu yang terperangkap dalam dadih.

Karbondioksida (CO2)

Penambahan CO2 adalah salah satu cara untuk memperbaiki kualitas susu keju. Karbondioksida terjadi secara alami dalam susu, tetapi kebanyakan hilang dalam pemrosesan. Penambahan karbondioksida dengan buatan berarti menurunkan pH susu; pH asli biasanya berkurang 0.1 sampai 0.3 unit. Hal ini kemudian akan menghasilkan waktu koagulasi yang lebih singkat. Efek ini bisa digunakan untuk mendapatkan waktu koagulasi yang sama dengan jumlah rennet yang lebih sedikit.

Saltpetre (NaNO3 atau KNO3)

Masalah fermentasi bisa dialami jika susu keju mengandung bakteri asam butirat (Clostridia) dan/atau bakteri coliform. Saltpetre (sodium atau potassium nitrate) bisa digunakan untuk menghadapi bakteri jenis ini, tetapi dosisnya harus ditentukan secara akurat dengan merujuk pada komposisi susu, proses yang digunakan untuk keju jenis ini, dan lain-lain; karena saltpetre yang terlalu banyak juga akan menghambat pertumbuhan biang. Overdosis saltpetre bisa mempengaruhi pematangan keju atau bahkan menghentikan proses pematangan.

Saltpetre dengan dosis tinggi bisa merubah warna keju, menyebabkan lapisan-lapisan kemerah-merahan dan rasa yang tidak murni. Dosis maksimum yang diijinkan sekitar 30 gram saltpetre per 100 kg susu. Dalam dekade terakhir ini, penggunaan saltpetre dipertanyakan dari sudut pandang kedokteran, dan juga dilarang di beberapa negara.

Bahan-bahan pewarna

Warna keju dalam cakupan yang luas ditentukan oleh warna lemak susu dan melalui variasi musiman. Warna-warna seperti karoten dan orleana , pewarna anatto alami, digunakan untuk mengoreksi variasi musiman di negara-negara dimana pewarnaan diperbolehkan. Klorofil hijau (pewarna kontras) juga digunakan, contohnya pada keju blueveined, untuk mendapatkan warna “pucat” yang kontras dengan birunya biakan mikroorganisme di keju.

Rennet

Kecuali untuk tipe-tipe keju segar seperti keju cottage dan guarg dimana susunya digumpalkan/dikentalkan terutama oleh asam laktat, semua pembuatan keju tergantung pada formasi dadih oleh aksi rennet atau enzim-enzim sejenis. Penggumpalan kasein merupakan proses dasar dalam pembuatan keju. Hal ini umumnya dilakukan dengan rennet, tetapi enzim proteolitik yang lain juga bisa digunakan, dan juga pengasaman kasein ke titik iso-elektrik (pH 4.6-4.7).

Prinsip aktif pada rennet adalah enzim yang disebut chymosine , dan penggumpalan terjadi dengan singkat setelah rennet ditambahkan ke dalam susu. Ada beberapa teori tentang mekanisme prosesnya, dan bahkan saat ini hal tersebut tidak dimengerti secara menyeluruh. Bagaimanapun juga, hal ini jelas bahwa proses berjalan dalam beberapa tahapan; secara umum dibedakan sebagai berikut:

  1. transformasi kasein ke parakasein di bawah pengaruh rennet
  2. pengendapan parakasein didalam ion-ion kalsium yang ada

Keseluruhan proses ditentukan oleh suhu, keasaman, kandungan kalsium susu, dan juga oleh faktor-faktor lain. Suhu optimum untuk rennet sekitar 40 °C, tetapi dalam praktik biasanya digunakan suhu yang lebih rendah untuk menghindari kekerasan yang berlebihan pada gumpalan.

Rennet diekstrak dari perut anak sapi yang masih muda dan dipasarkan dalam bentuk larutan dengan kekuatan 1:10000 sampai 1:15000, yang berarti bahwa satu bagian rennet bisa mengentalkan 10000 – 15000 bagian susu dalam 40 menit pada 35 °C . Rennet dari bovine (termasuk keluarga sapi) dan babi juga digunakan, sering dikombinasikan dengan rennet anak sapi (50:50, 30:70, dll). Rennet dalam bentuk bubuk biasanya 10 kali kekuatan rennet cair.

Pengganti rennet hewan

Sekitar 50 tahun yang lalu, penelitian dimulai untuk menemukan pengganti rennet hewan. Hal ini dilakukan terutama di India dan Israel karena penolakan para vegetarian untuk menerima keju yang dibuat dengan rennet hewan. Di dunia Muslim, penggunaan rennet babi sudah jelas hukumnya, dimana merupakan alasan penting yang lebih jauh untuk menemukan pengganti yang sesuai. Ketertarikan produk pengganti telah tumbuh lebih luas pada tahun-tahun terakhir karena keterbatasan rennet hewan yang berkualitas bagus.

Ada dua tipe utama pengganti bahan pengental:

  1. enzim penggumpal dari tanaman
  2. enzim penggumpal dari mikroorganisme

Penelitian telah menunjukkan bahwa kemampuan penggumpalan pada umumnya baik dengan persiapan yang dibuat dari enzim tanaman. Satu kelemahan adalah bahwa keju sering mengembangkan rasa pahit selama penyimpanan.

 

  1. 4.      Pemotongan gumpalan

Pe-rennet-an atau waktu penggumpalan pada umumnya sekitar 30 menit. Sebelum gumpalan dipotong, sebuah tes sederhana biasanya dilakukan untuk menentukan whey penghilang kualitas. Biasanya, sebuah pisau ditusukkan pada permukaan gumpalan susu dan kemudian ditarik perlahan-lahan ke atas sampai terjadi pecahan yang cukup. Dadih bisa dipertimbangkan siap untuk pemotongan ketika kerusakan seperti gelas pecah/retak dapat diamati. Pemotongan dengan hati-hati memecah dadih sampai ke dalam granule dengan ukuran 3-15 mm, tergantung pada tipe keju. Semakin halus potongan, semakin rendah kandungan air dalam keju yang dihasilkan.

 

  1. 5.      Pra-pengadukan

Segera setelah pemotongan, granule dadih sangat sensitif terhadap perlakuan mekanik, itulah sebabnya pengadukan harus dilakukan dengan lembut, tetapi cukup cepat, untuk menjaga granule tercampur dalam whey. Sedimentasi dadih di dasar tong menyebabkan pembentukan bongkahan-bongkahan. Ini membuat kerusakan pada mekanisme pengadukkan, dimana pasti sangat kuat. Dadih keju rendah lemak cenderung kuat untuk tenggelam di dasar tong, yang berarti bahwa pengadukannya harus lebih sering daripada pengadukan untuk dadih keju tinggi lemak. Bongkahan-bongkahan bisa mempengaruhi tekstur keju, juga menyebabkan hilangnya kasein dalam whey.

 

  1. 6.      Pra-pengeringan whey

Untuk beberapa tipe keju, seperti Gouda dan Edam, diinginkan untuk membersihkan granule dengan jumlah whey yang banyak sehingga panas bisa disuplai dengan penambahan langsung air panas ke dalam campuran dadih dan whey, yang juga dapat merendahkan kandungan laktosa. Beberapa produser juga mengeringkan whey untuk mengurangi konsumsi energi yang dibutuhkan untuk pemanasan dadih secara tidak langsung. Untuk setiap tipe keju, sangat penting bahwa jumlah whey yang sama – biasanya 35%, kadang-kadang sebanyak 50% volume batch – dikeringkan setiap saat.

 

  1. 7.      Pemanasan/Pemasakan/Pembakaran

Perlakuan panas diperlukan selama pembuatan keju untuk mengatur ukuran dan pengasaman dadih. Pertumbuhan bakteri pemroduksi asam dibatasi oleh panas, sehingga digunakan untuk mengatur produksi asam laktat. Selain efek bakteriologi, panas juga mendukung pemadatan dadih disertai dengan pengeluaran whey (sineresis).

Tergantung pada tipe keju, pemanasan bisa dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  1. Dengan steam di dalam tong/jaket tong saja.
  2. Dengan steam di dalam jaket dikombinasikan dengan penambahan air panas ke dalam campuran dadih/whey.
  3. Dengan penambahan air panas ke dalam campuran dadih/whey saja.

Waktu dan suhu untuk pemanasan ditentukan oleh metode pemanasan dan tipe keju. Pemanasan sampai suhu diatas 40 °C, kadang-kadang disebut pemasakan, biasanya dilakukan dalam dua tahap. Pada 37 – 38°C aktivitas bakteri asam laktat mesophilic terhambat, dan pemanasan terhenti untuk mengecek keasaman, setelah itu pemanasan berlanjut sampai suhu akhir yang diinginkan. Diatas 44 °C bakteri mesophilic ternon-aktifkan secara keseluruhan, dan mereka mati pada suhu 52 °C antara 10 dan 20 menit.

Pemanasan melebihi 44 °C biasanya disebut dengan scalding (pembakaran). Beberapa tipe keju, seperti Emmenthal, Gruyère, Parmesan dan Grana, dibakar pada suhu setinggi 50 – 56 °C. Hanya bakteri pemroduksi asam laktat yang paling tahan panas yang bertahan pada suhu ini. Salah satunya adalah Propionibacterium freudenreichii ssp. shermanii , yang sangat penting dalam pembentukan karakter keju Emmenthal.

 

  1. 8.      Pengadukan akhir

Sensitifitas granule dadih menurun selama proses pemanasan dan pengadukan. Lebih banyak whey diteteskan dari granule selama periode pengadukan akhir. Hal ini terutama karena perkembangan asam laktat yang berkesinambungan, juga karena efek mekanis pengadukan.

Durasi pengadukan akhir tergantung pada keasaman yang diinginkan dan kandungan air dalam keju.

 

  1. 9.      Pembersihan akhir whey dan prinsip-prinsip penanganan dadih

Segera setelah keasaman dan kekerasan dadih yang diinginkan telah tercapai – dan dicek oleh produser – sisa whey dibersihkan dari dadih dengan berbagai cara, tergantung pada tipe keju.

Keju dengan tekstur granular

 

Salah satu cara untuk mengambil whey adalah langsung dari tong keju; hal ini digunakan terutama dengan membuka tong keju secara manual. Setelah pengeringan whey, dadih disekop kedalam cetakan. Keju yang dihasilkan memperoleh tekstur dengan lubang-lubang/mata tidak beraturan, juga disebut tekstur granular. Lubang-lubang tersebut terutama terbentuk karena gas karbondioksida yang biasanya berkembang dengan biakan biang LD (Lactococcus lactis, Leuconostoc cremoris dan Lactococcus diacetylactis).

Jika granule-granule dadih terkena udara sebelum dikumpulkan dan dipress, maka mereka tidak menyatu secara lengkap; banyak kantong-kantong udara kecil berada pada bagian dalam keju. Karbondioksida yang terbentuk dan dikeluarkan selama periode pematangan mengisi dan memperbesar kantong-kantong ini secara bertahap. Lubang yang terbentuk dengan cara ini berbentuk tak beraturan. Whey juga bisa dikeringkan dengan memompa campuran dadih/whey melewati sebuah saringan yang bergetar atau berputar, dimana granule-granule terpisah dari whey dan disalurkan langsung ke dalam cetakan. Keju yang dihasilkan memiliki tekstur granular.

 

  1. 10.   Perlakuan akhir dadih

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, setelah semua whey bebas telah dibersihkan, dadih bisa ditangani dengan berbagai macam cara, antara lain:

  1. ditransfer langsung ke cetakan (keju granular)
  2. pra-pengepresan ke dalam sebuah blok dan dipotong-potong dengan ukuran yang sesuai untuk ditempatkan dalam cetakan (keju bermata bundar), atau
  3. dikirim ke cheddaring , fase terakhir dimana meliputi penggilingan ke dalam kepingan-kepingan yang bisa diasinkan kering dan digelindingkan atau, jika ditujukan untuk keju tipe Pasta Filata , ditransfer tanpa diasinkan ke mesin pemasak-pengulur.

 

  1. 11.    Penekanan (Pengepresan)

Setelah dicetak atau digelindingkan, dadih dikenai penekanan (pengepresan) akhir, dengan tujuan empat sekaligus :

  1. untuk membantu pengeluaran whey akhir
  2. untuk memberikan tekstur
  3. untuk membentuk keju
  4. untuk memberikan kulit pada keju-keju dengan periode pematangan yang panjang

Laju pengepresan dan tekanan yang dilakukan disesuaikan terhadap setiap jenis keju. Pengepresan seharusnya perlahan-lahan pada mulanya, karena tekanan tinggi yang awal dapat menekan lapisan permukaan dan mengunci kelembaban dalam kantong-kantong di badan keju.

 

  1. 12.   Pengasinan/Penggaraman

Pada keju, seperti pada banyak makanan, garam biasanya berfungsi sebagai bumbu. Tetapi garam memiliki efek-efek penting yang lain, seperti memperlambat aktifitas biang dan proses-proses bakteri yang berkaitan dengan pematangan keju. Pemberian garam ke dalam dadih menyebabkan lebih banyak kelembaban dikeluarkan, baik melalui efek osmotik dan efek penggaraman pada protein. Tekanan osmotik bisa disamakan dengan pembentukan pengisap pada permukaan dadih, menyebabkan kelembaban tertarik keluar.

Dengan beberapa pengecualian, kandungan garam keju adalah 0.5 – 2%. Blue cheese dan varian white pickled cheese (Feta, Domiati), pada umumnya memiliki kandungan garam 3 – 7%. Pertukaran kalsium dengan sodium dalam paracaseinate yang merupakan hasil dari penggaraman juga memiliki pengaruh positif pada konsistensi keju, yaitu keju menjadi semakin halus/lembut. Secara umum, dadih yang dikenai garam pada pH 5.3 – 5.6 selama 5 – 6 jam setelah penambahan biakan utama, menyebabkan susu tidak mengandung zat-zat penghambat bakteri.

Pengasinan kering

Pengasinan kering bisa dilakukan baik secara manual maupun mekanik. Garam dituangkan secara manual dari sebuah ember atau kontainer yang mengandung jumlah yang cukup, disebarkan secara merata diatas dadih setelah semua whey dibersihkan. Untuk distribusi yang lengkap, dadih diaduk selama 5 – 10 menit.

Ada berbagai macam cara untuk mendistribusikan garam pada dadih secara mekanik. Salah satunya sama dengan yang digunakan untuk dosis garam pada kepingan-kepingan ( chips ) cheddar selama tahap akhir proses melalui mesin cheddaring yang berkelanjutan.

 

  1. 13.   Pematangan dan Penyimpanan Keju

Pematangan

Setelah pendadihan, semua keju, terpisah dari keju segar, melalui serangkaian proses mikrobiologi, biokimia dan karakter fisik.

Perubahan-perubahan ini mengakibatkan laktosa, protein dan lemak menjadi suatu siklus pematangan yang sangat bervariasi antara keju keras, sedang, dan halus/lembut. Perbedaan yang signifikan bahkan terjadi di dalam masing-masing grup ini.

Dekomposisi laktosa

Teknik-teknik yang telah ditemukan untuk membuat jenis-jenis keju yang berbeda selalu ditujukan kearah pengontrolan dan pengaturan pertumbuhan dan aktifitas bakteri asam laktat. Dengan cara ini ada kemungkinan untuk mempengaruhi secara simultan baik level maupun kecepatan fermentasi laktosa. Telah dinyatakan sebelumnya bahwa dalam proses pembuatan Cheddar, laktosa terfermentasi sebelum dadih digelindingkan. Pada jenis-jenis keju yang lain, fermentasi laktosa sebaiknya dikontrol sedemikian rupa sehingga kebanyakan dekomposisi laktosa terjadi selama pengepresan keju dan, yang terakhir, selama minggu pertama atau mungkin pada dua minggu pertama penyimpanan.

Asam laktat yang diproduksi dinetralisir sampai dalam jumlah yang besar di keju dengan komponen buffering dari susu, dimana kebanyakan yang telah termasuk dalam gumpalan. Asam laktat kemudian hadir dalam bentuk laktat pada keju yang telah lengkap. Pada tahap selanjutnya, laktat memberi substrat yang cocok untuk bakteri asam propionat yang merupakan bagian penting flora mikrobiologi dari Emmenthal, Gruyère dan tipe-tipe keju sejenis.

Disamping asam propionat dan asam asetat, terbentuk karbondioksida dengan jumlah yang signifikan, dimana merupakan penyebab langsung pembentukan mata bundar yang besar pada tipe keju yang disebutkan di atas. Laktat juga bisa dipecah oleh bakteri asam butirat, jika kondisinya sebaliknya tidak bagus untuk fermentasi ini, dimana terbentuk hidrogen sebagai tambahan asam lemak dan karbondioksida yang volatil tertentu. Fermentasi ini timbul pada tahap akhir, dan hidrogen dapat menyebabkan keju menjadi rusak. Fermentasi laktosa disebabkan oleh adanya enzim laktase dalam bakteri asam laktat.

Dekomposisi protein

Pematangan keju, terutama keju keras, dicirikan pertama dan terutama oleh dekomposisi protein. Level dekomposisi protein mempengaruhi kualitas keju sampai tingkat yang signifikan, kebanyakan mengenai konsistensi dan rasa. Dekomposisi protein dihasilkan oleh sistem enzim dari:

  1. rennet
  2. mikroorganisme
  3. plasmin, suatu enzim pengurai protein

Satu-satunya efek rennet adalah untuk memecah molekul parakasein menjadi polipeptida. Pemecahan pertama oleh rennet membuat kemungkinan dekomposisi kasein yang lebih cepat melalui aksi enzim-enzim bakteri daripada jika enzym-enzym ini harus memecah molekul kasein secara langsung.

 Pada keju dengan suhu masak yang tinggi, keju yang dibakar seperti Emmenthal dan Parmesan, aktifitas plasmin memainkan peranan pada pemecahan pertama. Pada keju-keju yang halus-sedang seperti Tilsiter dan Limburger, dua proses pematangan saling terjadi secara paralel, yaitu proses pemasakan normal pada rennet keju keras dan proses pemasakan pada hapusan (bakteri) yang terbentuk di permukaan. Pada proses yang disebutkan terakhir, dekomposisi protein berproses lebih jauh sampai akhirnya ammonia diproduksi sebagai hasil aksi proteolitik yang kuat dari hapusan bakteri.

 

  1. 14.   Penyimpanan Keju yang Sudah Jadi

Tujuan penyimpanan adalah untuk membentuk kondisi eksternal yang penting untuk mengontrol siklus pematangan keju sepanjang mungkin. Untuk setiap jenis keju, kombinasi spesifik antara suhu dan kelembaban relatif ( relative humidity atau RH) harus dijaga di dalam ruangan penyimpanan yang berbeda selama masa tahapan-tahapan penyimpanan.

Tipe-tipe keju yang berbeda membutuhkan suhu dan RH yang berbeda dalam ruang penyimpanan. Kondisi iklim merupakan hal yang sangat penting untuk laju pematangan, berat susut, pembentukan kulit dan perkembangan permukaan flora (di Tilsiter, Romadur dan yang lain) – dengan kata lain untuk karakter total keju.

Keju dengan kulit, kebanyakan biasanya tipe keras dan semi-keras, bisa diberi pelapisan emulsi plastik atau parafin atau lapisan lilin. Keju tanpa kulit ditutup dengan plastik film atau kantong plastik yang dapat menyusut.

  1. Keju-keju golongan Cheddar sering dimatangkan pada suhu rendah, 4-8 °C, dan RH lebih rendah dari 80%, karena mereka biasanya dibungkus dalam plastik film atau kantong dan dikemas dalam karton atau kerangka kayu sebelum dikirim ke toko. Waktu pematangan bisa bervariasi dari beberapa bulan sampai 8 – 10 bulan untuk memuaskan kegemaran konsumen yang beragam.
  2. Keju-keju seperti Emmenthal mungkin perlu disimpan dalan ruang keju “hijau” pada suhu 8 – 12 °C selama 3 – 4 minggu diikuti dengan penyimpanan di ruang “pemfermentasi” pada suhu 22 – 25 °C selama 6 – 7 minggu. Setelah itu keju disimpan selama beberapa bulan dalam ruang pematangan pada suhu 8 – 12 °C. Kelembaban relatif untuk semua ruangan biasanya 85 – 90%.
  3. Tipe-tipe keju dengan perlakuan hapusan/olesan ( smear-treated ) – Tilsiter, Havarti dan yang lain – biasanya disimpan dalam ruang pemfermentasi selama 2 minggu pada 14 – 16 °C dan RH sekitar 90%, selama itu permukaan diolesi dengan biakan khusus campuran smear dengan larutan garam. Sekali lapisan smear yang diinginkan telah terbentuk, keju biasanya dipindah ke ruang pematangan pada suhu 10 -12 °C dan RH 90% selama 2 – 3 minggu lagi.
  4. Keju-keju seperti Gouda dan yang sejenis, bisa disimpan pertama kali untuk beberapa minggu di ruang keju “hijau” pada 10 – 12 °C dan RH sekitar 75%. Setelah itu diikuti dengan periode pematangan sekitar 3 – 4 minggu pada 12 – 18°C dan RH 75 – 80%. Akhirnya keju dipindah ke ruang penyimpanan pada sekitar 10 – 12 °C dan RH sekitar 75%, dimana karakteristik akhir terbentuk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI PENGENALAN ALAT-ALAT

PENDAHULUAN

 

Landasan Teori

      Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang mikroorganisme yang  tidak dapat dilihat dengan mata telanjang untuk  meneliti apa saja yang terkandung di dalam mikroorganisme. Dalam meneliti mikroorganisme diperlukan teknik atau cara – cara khusus untuk mempelajarinya serta untuk bekerja pada skala laboratorium untuk meneliti mikroorganisme baik sifat maupun karakteristiknya, tentu diperlukan adanya pengenalan alat yang akan digunakan serta mengetahui cara penggunaan alat – alat yang berhubungan dengan penelitian unutk memudahkan dalam melakukan penelitian (Dwidjoseputro, 2003).

Alat – alat yang digunakan dalam  penelitian harus dalam keadaan steril atau bebas dari kuman, bakteri, virus dan jamur. Perlu adanya pengetahuan tentang cara – cara atau teknik sterilisasi. Hal ini dilakukan karena alat – alat yang digunakan memiliki teknik sterilisasi yang berbeda (Dwidjoseputro, 2003).

Laboratorium, seperti layaknya tempat bekerja harus dapat memberikan kenyamanan, kesehatan dan keamanan kepada semua orang yang bekerja didalamnya, termasuk pengelola laboratorium itu sendiri. Untuk itu, perlu studi kelayakan mengenai perencanaan dalam merancang laboratorium kimia yang meliputi adanya prosedur pengoperasian baku yang memerhatikan kesehatan dan keselamatan kerja ( K3 ) dilaboratorium, adanya ventilasi dan perlengkapan pelindung yang berfungsi baik, adanya penataan dan pengelolaan bahan kimia dan peralatan laboratorium, serta adanya prosedur pengolahan limbah laboratorium (Day & Underwood, 1998).

Sebelum melakukan praktikum, terlebih dahulu kita harus mengenal atau mengetahui tentang alat-alat yang digunakan dalam melakukan praktikum tersebut. Hal ini berguna untuk mempermudah kita dalam melaksanakan percobaan, sehingga resiko kecelakaan di laboratorium dapat ditanggulangi. Kebersihan dan kesempurnaan alat sangat penting untuk bekerja di laboratorium. Alat yang kelihatan secara kasat mata, belum tentu bersih, tergantung pada pemahaman seorang analis mengenai apa artinya bersih. Alat kaca seperti gelas piala atau erlenmeyer paling baik dibersihkan dengan sabun atau deterjen sintetik. Pipet, buret, dan labu volumetrik mungkin memerlukan larutan deterjen panas untuk bisa bersih benar (Day & Underwood, 1998).

Dalam mengukur suatu zat atau benda hendaknya menggunakan suatu alat, alat yang digunakan mengukur suatu zat dalam kimia adalah gelas ukur, akan tetapi hasil pengukuran dari gelas ukur sangat kurang tepat, sehingga dalam penggunaannya tidaklah terlalu teliti. Salah satu contoh alat pengukuran lain yang mempunyai tingkat ketelitian lebih baik dari pipet isap, namun pengukuran dengan pipet sendiri tidak terlepas dari kesalahan (Rohman, 1998).

Pada dasarnya setiap alat memiliki nama yang menunjukkan kegunaan alat, prinsip kerja atau proses yang berlangsung ketika alat digunakan. Beberapa kegunaan alat dapat dikenali berdasarkan namanya.Penamaan alat-alat yang berfungsi mengukur biasanya diakhiri dengan kata meter seperti thermometer,hygrometer dan spektrofotometer, dll. Alat-alat pengukur yang disertai dengan informasi tertulis, biasanya diberi tambahan “graph” seperti thermograph,barograph (Rohman, 1998).

Dari uraian tersebut,tersirat bahwa nama pada setiap alat menggambarkan mengenai kegunaan alat dan atau menggambarkan prinsip kerja pada alat yang bersangkutan. Dalam penggunaannya ada alat-alat yang bersifat umum dan ada pula yang khusus. Peralatan umum biasanya digunakan untuk suatu kegiatan reparasi, sedangkan peralatan khusus lebih banyak digunakan untuk suatu pengukuran atau penentuan (Rohman,1998).

Pada laboratorium mikrobiologi ada beberapa alat yang umum digunakan dan harus dikenal serta diketahui cara penggunaannya, yang antara lain :

-          Autoklaf                                  – Kaca penutup

-          Oven                                       – Mikroskop medan terang

-          Kulkas                                     – Pipet tetes dan pipet serologis

-          Cawan Petri                             – Gelas ukur

-          Tabung reaksi                          – Neraca analitik

-          Ose                                          – Inkubator

-          Lampu spiritus                         – Shaker

-          Beaker gelas                            – Penangas air

-          Hot plate                                 – Stirer

-          Labu Erlenmeyer                     – Colony counter

-          Kaca obyek biasa                    – Haemasitometer

-          Kaca obyek cekung                 – Laminar air flow (Millati, 2010).

Teknik aseptis memiliki beberapa macam sterilisasi, yaitu sterilisasi mekanik, sterilisasi fisik dan sterilisasi kimia. Setiap macam tersebut memiliki prinsip kerja yang berbeda sesuai dengan keadaan media yang akan disterilisasikan. Apabila dalam melakukan penelitian maupun percobaan tidak dilakukan teknik tersebut kemungkinan akan terjadi kontaminasi yang menyebabkan hasil penelitian atau percobaan itu kurang akurat. Oleh karena itu, teknik aseptis sangat penting dalam kegiatan praktikum ataupun penelitian (Khusnuryani, 2006).

 

Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah mengenal dan mengetahui cara menggunakan alat-alat laboratorium dalam praktikum Mikrobiologi Industri dan mengetahui metode aseptis yang dipergunakan dalam praktikum Mikrobiologi Industri.

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TATA CARA PENELITIAN

 

Waktu dan Tempat

            Praktikum ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 21 Februari 2013 pada pukul 16:00 – 18.00 Wita bertempat di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.

 .

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah beberapa alat yang ada dilaboratorium Mikrobilogi Industri.

 

Prosedur kerja

  1. Pengenalan Alat

Amati, catat dan pelajari fungsi serta prosedur kerja setiap alat yang tercantum pada pendahuluan

 

  1. Metode Aseptis

Beberapa hal yang harus diperhatiakan :

 

Kenakan selalu jas laboratorium selama bekerja dilaboratorium

 

Bersihkan meja laboratorium setiap akan memulai ataupun mengakhiri pekerjaan dilaboratorium dengan desinfektan

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Hasil

No

Nama Alat

Fungsi

Gambar

 1

Autoklaf

Untuk mensterilisasi alat dan medium.

 

 

2

Oven

Untuk sterilisasi alat-alat gelas

 

 

3

Kulkas

Untuk menyimpan isolat mikroba dan lain-lain

 

4

Cawan Petri

Untuk menumbuhkan, memelihara serta membiakkan (kultivasi) mikroorganisme

 

5

Tabung reaksi

Tempat medium untuk isolasi biakan murni mikroba,        serta untuk menguji sifat-sifat pertumbuhan mikroba.

 

 

6

Ose

Untuk mengambil bakteri dari medium pada waktu isolasi

 

7

Lampu spiritus

Untuk fiksasi bakteri, sterilisasi ose, sterilisasi jarum   inokulasi, dan lain-lain.

 

 

8

Beaker gelas

Tempat melarutkan bahan-bahan untuk membuat medium.

 

 

 

 

9

Hot plate

Untuk memanaskan atau mencairkan medium

 

 

10

Labu erlenmeyer

Tempat medium dan membiakan mikroba

 

11

Kaca obyek biasa

Untuk membuat preparat lekapan basah dari mikroba.

 

 

12

Kaca obyek cekung

Untuk membuat preparat tetes tergantung dari mikroba.

 

 

13

Kaca penutup

Untuk menutup preparat pada kaca objek.

 

14

Mikroskop medan terang

Untuk mengamati objek yang sangat kecil (mikroskopis) yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang

 

15

Pipet tetes dan pipet serologis

Untuk mengambil larutan dan suspensi mikroba.

 

 

16

Gelas ukur

 

Untuk mengukur volume larutan.

 

 

17

Neraca analitik

Untuk menimbang bahan kimia dan lain-lain.

 

18

Inkubator

Untuk menyimpan biakan mikroba pada suhu tertentu Inkubator

 

 

19

Shaker

Untuk menggoyang larutan atau suspensi mikroba agar   tercampur merata (homogen).  

 

 

20

Penangas air

Untuk mencairkan medium dan memanaskan medium pada suhu tertentu

 

21

Stirer

 

 

22

Colony counter

Untuk menghitung jumlah koloni mikroba yang tumbuh  pada medium  agar lempengan.

 

 

23

Haemasitometer

 

Untuk menghitung jumlah sel mikroba dalam suatu  cairan atau suspensi

 

24

Laminar air flow

Tempat melakukan isolasi mikroba agar tidak terkontaminasi oleh mikroba tular udara.

 

 

 

Pembahasan

Pengenalan alat pada praktikum mikrobiologi industri bertujuan agar praktikan dapat mengenal, menggunakan, dan mengerjakan peralatan-peralatan di Laboratorium Mikrobiologi. Dengan praktikum ini juga praktikan dapat mengetahui fungsi dari setiap alat laboratorium. Alat-alat laboratorium yang di pelajari adalah mikroskop, cawan petri, tabung reaksi, pipet ukur, ball pipet, ose, bunsen, erlenmeyer, gelas ukur, spatula, pipet tetes, objek glass dan cover glass, tabung durham, dan beaker glass.

1. Alat-alat Sterilisasi

Alat-alat sterilisasi meliputi Autoclaf, Oven, Ozonsterilizer, dan Lampu Spritus. Oven merupakan alat sterilisasi dengan menggunakan udara panas kering, dimana oven berfungsi mensterilisasi alat-alat gelas yang tidak bersekala. Perinsip dari oven ini sendiri adalah menghancurkan lisis mikroba menggunakan udara panas kering.

Ozonsterilizer berfungsi mensterilisasikan alat-alat yang tidak bersekala. Ozonsterilizer terdiri atas dua bagian, yakni bagian atas dan bagian bawah. Bagian atas ozonsterilizer mempunyai prinsip kerja membunuh mikroba menggunakan ozon (O3), dimana ozon dapat merusak mekanisme dari mikroba sehingga sel protein pada mikroba mengalami oksidasi yang mengakibatkan perubahan fungsi dan kematian pada mikroba, dan ozon (O3) itu sendiri bersifat racun. Bagian bawah dari ozonsterilizer (elektra) berfungsi mensterilisasikan medium menggunakan sinar lampu dengan panas tinggi, dimana cara kerjanya hampir sama dengan oven.

Autoclaf berfungsi mensterilisasikan alat-alat bersekala menggunakan uap air panas. Dimana uap air panas akan merusak protein mikroba hingga mengalami koogulasi, pada saat itu protein akan mengendap (denaturasi) dan menyebabkan kematian pada mikroba. Saat penggunaan otoclaf penutupan harus benar-benar rapat agar uap air yang bertekanan tinggi masuk kedalam atau beruduksi ke alat. Lampu spritus merupakan alat yang digunakan untuk pemijaran serta untuk mensterilisasikan mikroba. Lampu spritus juga mempunyai fungsi lain, yakni mengamankan praktikan pada saat melakukan penanaman medium.

Inkubator secara umum digunakan sebagai perlengkapan dalam laboratorium mikrobiologi pangan. Inkubator memiliki fungsi yang sama dengan water bath yaitu sebagai alat inkubasi pada analisa mikrobiologi. Inkubator adalah alat yang digunakan untuk menciptakan suhu stabil dan konstan. Suhu inkbator dipengaruhi oleh adanya perubahan suhu pada suhu ruang, oleh karena itu perubahan suhu ruang perlu diawasi terutama saat terjadi perubahan musim.

2. Alat-alat perhitungan koloni mikroorganisme.

Alat-alat yang tergolong dari alat perhitungan koloni adalah coloni counter dan cawan petri. Coloni counter merupakan alat yang berfungsi sebagai penghitung jumlah mikroba pada cawan petri menggunakan sinar dan luv. Perhitungan mikroba dapat dilakukan dengan perbesaran menggunakan luv atau dengan menandai beberapa koloni yang terdapat pada cawan petri menggunakan bulpoint yang terdapat pada coloni counter dan juga menggunakan tombol check.

Cawan petri berfungsi sebagai tempat pertumbuhan mikroba secara kuantitatif dan sebagai tempat pengujian sampel. Cawan petri ada yang terbuat dari gelas maupun plastik. Cawan petri terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian dasar untuk medium dan bagian penutup yang ukurannya lebih besar. Untuk pemakain rutin digunakan cawan petri berdiameter 15 cm ( biasa diisi agar nutrisi sebanyak 15 ml). Pada suhu 40 derajat celcius medium agar akan mulai memadat, sehingga harus diingat bahwa pada masa inkubasi cawan tersebut harus di simpan secara terbalik. Hal ini untuk mencegah kondensasi uap yang terbentuk saat agar memadat tidak jatuh ke permukaan agar.

3. Alat lainnya

Mikroskop berfungsi sebagai alat bantu untuk melihat mikroorganisme yang tak dapat dilihat oleh mata. Cara penggunaan mikroskop adalah dengan membelakangi bagian belakang mikroskop. Mikroskop yang digunakan antara lain elektron, mikroskop cahaya, dan mikroskop kemera. Mikroskop cahaya (Monokoler) berfungsi untuk melihat objek dengan bantuan cahaya. Mikroskop ini digunakan dengan satu mata, sehingga bayangan yang terlihat hanya memilki panjang dan lebar, dan memberikan gambaran mengenai tingginya. Prinsip kerja dari mikroskop ini adalah dengan memantulkan cahaya melalui cermin, lalu diteruskan hingga lensa objektif. Di lensa objektif bayangan yang dihasilkan adalah maya, terbalik dan diperbesar. Kemudian bayangan akan diteruskan dan menghasilkan bayangan tegak, nyata dan diperbesar oleh mata pengamat. Semakin banyak cahaya yang dipantulkan melalui cermin, maka akan semakin terang pula mikroorganisme yang dilihat. Mikroskop ini memiliki pembasaran objektif (10x dan 40x) serta pembesaran okuler (10x). Mikroskop elektron (Biokuler) berfungsi untuk melihat objek dengan bantuan elektron atau cahaya lampu. terdiri atas empat lensa objektif dengan empat pembesaran, 10x, 25x, 40x dan 100x. Saat pengunaan menggunakan pembesaran 100x, ditambahkan minyak emersi di atas gelas objek. Tujuannya adalah untuk mengurangi sudut bias akibat banyaknya cahaya yang dipantulkan. Tanpa minyak emersi, maka objek yang akan diteliti, tidak akan terllihat. Mikroskop ini digunakan saat melihat struktur dan melakukan pewarnaan bakteri. Mikroskop kamera (Triokuler) berfungsi sebagai pengambil gambar (objek). Lensa okuler yang terdapat dalam mikroskop ini sejumlah tiga lensa okuler. Mikroskop ini dapat mengambil gambar dari preparat. Maka dari itu, mikroskop ini hanya akan digunakan bila ingin mengambil gambar objek yang akan diamati. Prinsip kerjanya sama seperti mikroskop cahaya, hanya ada sedikit perbedaan dalam mengoperasikannya.

Centrifuge merupakan alat yang berfungsi sebagai pemisah zat dalam cairan yang diduga dapat mengendap dengan cara pemutaran menggunakan kekuatan rotasi. Dengan pemutaran kecepatan tertentu, zat-zat yang tidak terlarut akan mengendap. Satuaan yang digunakan pada centrifuge adalah Rpm (Rotation per meter). Perinsip kerja dari alat ini adalah zat yang akan dipisahkan dimasukkan kedalam tabung yang terdapat pada centrifuge, kemudian menutup lubang pada centrifuge agar udar yang masuk tidak mempengaruhi zat yang akan dipisah. Setelah itu tentukan waktu dan rotasi putaran yang diinginkan, dengan memutar tombol Timer dan Rotation.

Pipet volume adalah alat yang berfungsi sebagai pengambil larutan atau sampel sesuai dengan jumlah yang kita tentukan. Pipet gondok berfungsi sama seperti pipet volum, hanya saja pengambilan larutan sudah ditentukan. Cara sterilisasinya menggunakan otoklaf.

Tabung reaksi berfungsi sebagai tempat media pertumbuhan mikroba alam bentuk media tegak atau miring yang disumbat dengan kapas, dibulatkan lalu disterilkan dengan kapas berada tetap di atasnya dan diikat, sedangkan rak tabung sebagai tempat untuk meletakkan tabung reaksi. Tabung reaksi berfungsi untuk menyimpan mikroorganisme dalam medium nutrisi cair atau padat, untuk alat pengenceran, dan untuk pengujian mikrobiologis lainnya. Lingkungan steril pada tabung reaksi dipertahankan dengan adanya sumbat. Sumbat yang kita gunakan disini adalah sumbat kapas. Pemasangan sumbat kapas pada tabung reaksi harus benar. Apabila terdengar bunyi blub pada saat melepaskan sumbat maka sumbat itu telah benar. Lalu agar penyimpanan tabung reaksi rapih dan mudah digunakan, harus di simpan dan di letakkan di rak tabung. Tabung reaksi berfungsi sebagai tempat untuk melarutkan bahan, menampung larutan, dan tempat untuk mencampurkan bahan lalu dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer. Alat ini dapat disterilisasikan dengan dibungkus terlebih dahulu dengan kertas saring bagian atasnya lalu dibungkus dengan kertas dan diikat, lalu dimasukkan ke dalam otoklaf.

Laminar Air Flow (LAF) adalah alat yang berguna untuk bekerja secara aseptis dalam pekerjaan persiapan bahan tanaman, penanaman, dan pemindahan tanaman dari suatu botol ke botol yang lain dalam kultur in vitro. LAF mempunyai pola pengaturan dan penyaring aliran udara sehingga menjadi steril dan aplikasi sinar UV beberapa jam sebelum digunakan. Alat ini diberi nama Laminar Air Flow karena meniupkan udara steril secara kontinue melewati tempat kerja sehingga tempat kerja bebas dari debu dan spora-spora yang mungkin jatuh ke dalam media, waktu pelaksanaan penanaman. Aliran udara berasal dari udara ruangan yang ditarik ke dalam alat melalui filter pertama (pre-filter), yang kemudian ditiupkan keluar melalui filter yang sangat halus yang disebut HEPA (High efficiency Particulate Air FilterI), dengan menggunakan blower.

Ose berfungsi untuk mengambil dan menggores MO, terdiri dari ose lurus untuk menanam MO dan ose bulat untuk menggores MO yang biasanya berbentuk zig-zag.

Timbangan Analitik berfungsi untuk menimbang bahan kimia. Timbangan ini memiliki batas maksimal penimbangan. Jika melewati batas tersebut, maka ketelitian perhitungan akan berkurang.

Labu erlenmeyer berfungsi sebagai tempat penyimpanan medium, memanaskan larutan, dan menampung hasil dari penyaringan. Alat ini dapat disterilisasikan dengan ditutup terlebih dahulu bagian atas dengan kapas, lalu disterilisasi dengan menggunakan otoklaf.

Pada praktikum dan pengerjaan mikrobiologi, diperlukan suatu kondisi yang benar-benar aseptik dimana alat penunjang serta nutrient dan substrat harus benar-benar steril. Sterilisasi adalah suatu usaha untuk membebaskan alat-alat, bahan, dan kemasan dari segala macam bentuk kehidupan terutam mikro organism. Hal ini berarti mikroba kontaminan harus dimatikan. Untuk memperoleh kondisi yang steril dan bersih maka dilakukan sterilisasi. Metode sterilisasi yang umum digunakan secara rutin di laboratorium mikrobiologi adalah dengan menggunakan panas, metode sterilisasi dengan menggunakan panas dibagi menjadi 2 cara, yaitu sterilisasi kering dan sterilisasi basah.

Sterilisasi kering dapat diterapkan pada apa saja yang tidak rusak, menyala, hangus, dan menguap pada suhu setinggi itu. Bahan-bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini antara lain alat-alat gelas (botol, tabung reaksi, cawan petri, dan lain-lain) dan bahan-bahan ceperti kertas, kain, dan kapas. Sterilisasi kering menggunakan oven pada suhu 70-80 derajat celcius selama 2 jam. Bahan-bahan yang disterilkan harus dilindungi dengan cara membungkus, menyumbat atau menaruhnya dalam suatu wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi setelah dikeluarkan dari oven.

Sterilisasi basah dapat dilakukan dengan perebusan dengan suhu 100 derajat celcius selama 10 menit, blansing dengan suhu 70-85 derajat Celsius selama 7-9 menit, pasteurisasi dengan suhu 72 derajat celcius selama 7 detik, dan menggunakan autoclave. Sterilisasi dengan autoclave menggunkan uap air jenuh bertekanan pada suhu 121 oC selama 15 menit dengan tekanan 1 Atm. Cara ini selain di gunakan untuk sterilisasi alat, digunakan juga untuk bahan-bahan yang mengandung cairan yang tidak tahab udara panas yang kering, misalnya medium.

Pada praktikum dan pengerjaan mikrobiologi, diperlukan juga ruangan dan tempat kerja yang steril. Ruang yang steril merupakan suatu keadaan ruang yang bebas dari semua bentuk kehidupan mikroba yang patogen maupun yang non-patogen. Agar ruangan praktikum tetap steril, lakukanlah sterilisasi rutin terhadap alat-alat dan tempat kerja. Contohnya meja, semprotkan alkohol 70% ke meja. Dan bukan hanya ke meja, alkohol 70% juga dapat di semprotkan ke tempat kerja lainnya. Bila ada cairan tumpah di ruangan kerja kita, maka harus langsung di bersihkan agar ruangan kerja tetap steril.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SIMPULAN DAN SARAN

 

Simpulan

 Dalam praktikum mikrobiologi pangan terdapat berbagai macam alat-alat yang harus kita ketahui fungsi dan cara pengerjaannya agar praktikum mikrobiologi pangan dapat dilakukan dengan baik dan benar. Alat-alat laboratorium yang harus kita pelajari adalah mikroskop, cawan petri, tabung reaksi, pipet ukur, ball pipet, ose, bunsen, erlenmeyer, gelas ukur, spatula, pipet tetes, objek glass dan cover glass, tabung durham, dan beaker glass.

        Pada praktikum dan pengerjaan mikrobiologi, diperlukan suatu kondisi yang benar-benar aseptik dimana alat penunjang serta nutrient dan substrat harus benar-benar steril. Sterilisasi adalah suatu usaha untuk membebaskan alat-alat, bahan, dan kemasan dari segala macam bentuk kehidupan terutam mikro organism. Hal ini berarti mikroba kontaminan harus dimatikan. Untuk memperoleh kondisi yang steril dan bersih maka dilakukan sterilisasi. Metode sterilisasi yang umum digunakan secara rutin di laboratorium mikrobiologi adalah dengan menggunakan panas, metode sterilisasi dengan menggunakan panas dibagi menjadi 2 cara, yaitu sterilisasi kering dan sterilisasi basah. Sterilisasi tidak hanya dilakukan terhadap alat-alat laboratorium saja, tetapi ruangan dan tempat kerja pada pengerjaan mikrobioogi harus steril juga.

 

Saran

Dengan adanya praktikum seperti ini , mahasiswa dapat mengenal dan mengetahui cara menggunakan alat-alat laboratorium dalam praktikum Mikrobiologi Industri dan mengetahui metode aseptis yang dipergunakan dalam praktikum Mikrobiologi Industri.

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Day, R.A. Jr. and A.L. Underwood. 1998. Kimia Analisis Kuantitatif. Edisi Revisi, Terjemahan R. Soendoro dkk. Erlangga. Jakarta.

 

Dwidjoseputro, D.2003. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta

 

Harjadi ,W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT. Grammedia. Jakarta

Khusnuryani, Arifah.2006.Pedoman Praktikum Biologi.Yogyakarta:UIN Press

 

Millati, Tanwirul, dkk. 2010. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Industri. Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru

 

Rohman, Taifiqur. 1998. Penanganan Bahan Kimia Dengan Alat Gelas Kimia Serta Penanganan Korban Akibat Kontak Dengan Bahan Kimia. Makalah Seminar Pada Pelatihan Dosen Biokimia. Banjarbaru

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Landasan Teori

      Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang mikroorganisme yang  tidak dapat dilihat dengan mata telanjang untuk  meneliti apa saja yang terkandung di dalam mikroorganisme. Dalam meneliti mikroorganisme diperlukan teknik atau cara – cara khusus untuk mempelajarinya serta untuk bekerja pada skala laboratorium untuk meneliti mikroorganisme baik sifat maupun karakteristiknya, tentu diperlukan adanya pengenalan alat yang akan digunakan serta mengetahui cara penggunaan alat – alat yang berhubungan dengan penelitian unutk memudahkan dalam melakukan penelitian (Dwidjoseputro, 2003).

Alat – alat yang digunakan dalam  penelitian harus dalam keadaan steril atau bebas dari kuman, bakteri, virus dan jamur. Perlu adanya pengetahuan tentang cara – cara atau teknik sterilisasi. Hal ini dilakukan karena alat – alat yang digunakan memiliki teknik sterilisasi yang berbeda (Dwidjoseputro, 2003).

Laboratorium, seperti layaknya tempat bekerja harus dapat memberikan kenyamanan, kesehatan dan keamanan kepada semua orang yang bekerja didalamnya, termasuk pengelola laboratorium itu sendiri. Untuk itu, perlu studi kelayakan mengenai perencanaan dalam merancang laboratorium kimia yang meliputi adanya prosedur pengoperasian baku yang memerhatikan kesehatan dan keselamatan kerja ( K3 ) dilaboratorium, adanya ventilasi dan perlengkapan pelindung yang berfungsi baik, adanya penataan dan pengelolaan bahan kimia dan peralatan laboratorium, serta adanya prosedur pengolahan limbah laboratorium (Day & Underwood, 1998).

Sebelum melakukan praktikum, terlebih dahulu kita harus mengenal atau mengetahui tentang alat-alat yang digunakan dalam melakukan praktikum tersebut. Hal ini berguna untuk mempermudah kita dalam melaksanakan percobaan, sehingga resiko kecelakaan di laboratorium dapat ditanggulangi. Kebersihan dan kesempurnaan alat sangat penting untuk bekerja di laboratorium. Alat yang kelihatan secara kasat mata, belum tentu bersih, tergantung pada pemahaman seorang analis mengenai apa artinya bersih. Alat kaca seperti gelas piala atau erlenmeyer paling baik dibersihkan dengan sabun atau deterjen sintetik. Pipet, buret, dan labu volumetrik mungkin memerlukan larutan deterjen panas untuk bisa bersih benar (Day & Underwood, 1998).

Dalam mengukur suatu zat atau benda hendaknya menggunakan suatu alat, alat yang digunakan mengukur suatu zat dalam kimia adalah gelas ukur, akan tetapi hasil pengukuran dari gelas ukur sangat kurang tepat, sehingga dalam penggunaannya tidaklah terlalu teliti. Salah satu contoh alat pengukuran lain yang mempunyai tingkat ketelitian lebih baik dari pipet isap, namun pengukuran dengan pipet sendiri tidak terlepas dari kesalahan (Rohman, 1998).

Pada dasarnya setiap alat memiliki nama yang menunjukkan kegunaan alat, prinsip kerja atau proses yang berlangsung ketika alat digunakan. Beberapa kegunaan alat dapat dikenali berdasarkan namanya.Penamaan alat-alat yang berfungsi mengukur biasanya diakhiri dengan kata meter seperti thermometer,hygrometer dan spektrofotometer, dll. Alat-alat pengukur yang disertai dengan informasi tertulis, biasanya diberi tambahan “graph” seperti thermograph,barograph (Rohman, 1998).

Dari uraian tersebut,tersirat bahwa nama pada setiap alat menggambarkan mengenai kegunaan alat dan atau menggambarkan prinsip kerja pada alat yang bersangkutan. Dalam penggunaannya ada alat-alat yang bersifat umum dan ada pula yang khusus. Peralatan umum biasanya digunakan untuk suatu kegiatan reparasi, sedangkan peralatan khusus lebih banyak digunakan untuk suatu pengukuran atau penentuan (Rohman,1998).

Pada laboratorium mikrobiologi ada beberapa alat yang umum digunakan dan harus dikenal serta diketahui cara penggunaannya, yang antara lain :

-          Autoklaf                                  – Kaca penutup

-          Oven                                       – Mikroskop medan terang

-          Kulkas                                     – Pipet tetes dan pipet serologis

-          Cawan Petri                             – Gelas ukur

-          Tabung reaksi                          – Neraca analitik

-          Ose                                          – Inkubator

-          Lampu spiritus                         – Shaker

-          Beaker gelas                            – Penangas air

-          Hot plate                                 – Stirer

-          Labu Erlenmeyer                     – Colony counter

-          Kaca obyek biasa                    – Haemasitometer

-          Kaca obyek cekung                 – Laminar air flow (Millati, 2010).

Teknik aseptis memiliki beberapa macam sterilisasi, yaitu sterilisasi mekanik, sterilisasi fisik dan sterilisasi kimia. Setiap macam tersebut memiliki prinsip kerja yang berbeda sesuai dengan keadaan media yang akan disterilisasikan. Apabila dalam melakukan penelitian maupun percobaan tidak dilakukan teknik tersebut kemungkinan akan terjadi kontaminasi yang menyebabkan hasil penelitian atau percobaan itu kurang akurat. Oleh karena itu, teknik aseptis sangat penting dalam kegiatan praktikum ataupun penelitian (Khusnuryani, 2006).

 

Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah mengenal dan mengetahui cara menggunakan alat-alat laboratorium dalam praktikum Mikrobiologi Industri dan mengetahui metode aseptis yang dipergunakan dalam praktikum Mikrobiologi Industri.

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TATA CARA PENELITIAN

 

Waktu dan Tempat

            Praktikum ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 21 Februari 2013 pada pukul 16:00 – 18.00 Wita bertempat di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.

 .

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah beberapa alat yang ada dilaboratorium Mikrobilogi Industri.

 

Prosedur kerja

  1. Pengenalan Alat

Amati, catat dan pelajari fungsi serta prosedur kerja setiap alat yang tercantum pada pendahuluan

 

  1. Metode Aseptis

Beberapa hal yang harus diperhatiakan :

 

Kenakan selalu jas laboratorium selama bekerja dilaboratorium

 

Bersihkan meja laboratorium setiap akan memulai ataupun mengakhiri pekerjaan dilaboratorium dengan desinfektan

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Hasil

No

Nama Alat

Fungsi

Gambar

 1

Autoklaf

Untuk mensterilisasi alat dan medium.

 

 

2

Oven

Untuk sterilisasi alat-alat gelas

 

 

3

Kulkas

Untuk menyimpan isolat mikroba dan lain-lain

 

4

Cawan Petri

Untuk menumbuhkan, memelihara serta membiakkan (kultivasi) mikroorganisme

 

5

Tabung reaksi

Tempat medium untuk isolasi biakan murni mikroba,        serta untuk menguji sifat-sifat pertumbuhan mikroba.

 

 

6

Ose

Untuk mengambil bakteri dari medium pada waktu isolasi

 

7

Lampu spiritus

Untuk fiksasi bakteri, sterilisasi ose, sterilisasi jarum   inokulasi, dan lain-lain.

 

 

8

Beaker gelas

Tempat melarutkan bahan-bahan untuk membuat medium.

 

 

 

 

9

Hot plate

Untuk memanaskan atau mencairkan medium

 

 

10

Labu erlenmeyer

Tempat medium dan membiakan mikroba

 

11

Kaca obyek biasa

Untuk membuat preparat lekapan basah dari mikroba.

 

 

12

Kaca obyek cekung

Untuk membuat preparat tetes tergantung dari mikroba.

 

 

13

Kaca penutup

Untuk menutup preparat pada kaca objek.

 

14

Mikroskop medan terang

Untuk mengamati objek yang sangat kecil (mikroskopis) yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang

 

15

Pipet tetes dan pipet serologis

Untuk mengambil larutan dan suspensi mikroba.

 

 

16

Gelas ukur

 

Untuk mengukur volume larutan.

 

 

17

Neraca analitik

Untuk menimbang bahan kimia dan lain-lain.

 

18

Inkubator

Untuk menyimpan biakan mikroba pada suhu tertentu Inkubator

 

 

19

Shaker

Untuk menggoyang larutan atau suspensi mikroba agar   tercampur merata (homogen).  

 

 

20

Penangas air

Untuk mencairkan medium dan memanaskan medium pada suhu tertentu

 

21

Stirer

 

 

22

Colony counter

Untuk menghitung jumlah koloni mikroba yang tumbuh  pada medium  agar lempengan.

 

 

23

Haemasitometer

 

Untuk menghitung jumlah sel mikroba dalam suatu  cairan atau suspensi

 

24

Laminar air flow

Tempat melakukan isolasi mikroba agar tidak terkontaminasi oleh mikroba tular udara.

 

 

 

Pembahasan

Pengenalan alat pada praktikum mikrobiologi industri bertujuan agar praktikan dapat mengenal, menggunakan, dan mengerjakan peralatan-peralatan di Laboratorium Mikrobiologi. Dengan praktikum ini juga praktikan dapat mengetahui fungsi dari setiap alat laboratorium. Alat-alat laboratorium yang di pelajari adalah mikroskop, cawan petri, tabung reaksi, pipet ukur, ball pipet, ose, bunsen, erlenmeyer, gelas ukur, spatula, pipet tetes, objek glass dan cover glass, tabung durham, dan beaker glass.

1. Alat-alat Sterilisasi

Alat-alat sterilisasi meliputi Autoclaf, Oven, Ozonsterilizer, dan Lampu Spritus. Oven merupakan alat sterilisasi dengan menggunakan udara panas kering, dimana oven berfungsi mensterilisasi alat-alat gelas yang tidak bersekala. Perinsip dari oven ini sendiri adalah menghancurkan lisis mikroba menggunakan udara panas kering.

Ozonsterilizer berfungsi mensterilisasikan alat-alat yang tidak bersekala. Ozonsterilizer terdiri atas dua bagian, yakni bagian atas dan bagian bawah. Bagian atas ozonsterilizer mempunyai prinsip kerja membunuh mikroba menggunakan ozon (O3), dimana ozon dapat merusak mekanisme dari mikroba sehingga sel protein pada mikroba mengalami oksidasi yang mengakibatkan perubahan fungsi dan kematian pada mikroba, dan ozon (O3) itu sendiri bersifat racun. Bagian bawah dari ozonsterilizer (elektra) berfungsi mensterilisasikan medium menggunakan sinar lampu dengan panas tinggi, dimana cara kerjanya hampir sama dengan oven.

Autoclaf berfungsi mensterilisasikan alat-alat bersekala menggunakan uap air panas. Dimana uap air panas akan merusak protein mikroba hingga mengalami koogulasi, pada saat itu protein akan mengendap (denaturasi) dan menyebabkan kematian pada mikroba. Saat penggunaan otoclaf penutupan harus benar-benar rapat agar uap air yang bertekanan tinggi masuk kedalam atau beruduksi ke alat. Lampu spritus merupakan alat yang digunakan untuk pemijaran serta untuk mensterilisasikan mikroba. Lampu spritus juga mempunyai fungsi lain, yakni mengamankan praktikan pada saat melakukan penanaman medium.

Inkubator secara umum digunakan sebagai perlengkapan dalam laboratorium mikrobiologi pangan. Inkubator memiliki fungsi yang sama dengan water bath yaitu sebagai alat inkubasi pada analisa mikrobiologi. Inkubator adalah alat yang digunakan untuk menciptakan suhu stabil dan konstan. Suhu inkbator dipengaruhi oleh adanya perubahan suhu pada suhu ruang, oleh karena itu perubahan suhu ruang perlu diawasi terutama saat terjadi perubahan musim.

2. Alat-alat perhitungan koloni mikroorganisme.

Alat-alat yang tergolong dari alat perhitungan koloni adalah coloni counter dan cawan petri. Coloni counter merupakan alat yang berfungsi sebagai penghitung jumlah mikroba pada cawan petri menggunakan sinar dan luv. Perhitungan mikroba dapat dilakukan dengan perbesaran menggunakan luv atau dengan menandai beberapa koloni yang terdapat pada cawan petri menggunakan bulpoint yang terdapat pada coloni counter dan juga menggunakan tombol check.

Cawan petri berfungsi sebagai tempat pertumbuhan mikroba secara kuantitatif dan sebagai tempat pengujian sampel. Cawan petri ada yang terbuat dari gelas maupun plastik. Cawan petri terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian dasar untuk medium dan bagian penutup yang ukurannya lebih besar. Untuk pemakain rutin digunakan cawan petri berdiameter 15 cm ( biasa diisi agar nutrisi sebanyak 15 ml). Pada suhu 40 derajat celcius medium agar akan mulai memadat, sehingga harus diingat bahwa pada masa inkubasi cawan tersebut harus di simpan secara terbalik. Hal ini untuk mencegah kondensasi uap yang terbentuk saat agar memadat tidak jatuh ke permukaan agar.

3. Alat lainnya

Mikroskop berfungsi sebagai alat bantu untuk melihat mikroorganisme yang tak dapat dilihat oleh mata. Cara penggunaan mikroskop adalah dengan membelakangi bagian belakang mikroskop. Mikroskop yang digunakan antara lain elektron, mikroskop cahaya, dan mikroskop kemera. Mikroskop cahaya (Monokoler) berfungsi untuk melihat objek dengan bantuan cahaya. Mikroskop ini digunakan dengan satu mata, sehingga bayangan yang terlihat hanya memilki panjang dan lebar, dan memberikan gambaran mengenai tingginya. Prinsip kerja dari mikroskop ini adalah dengan memantulkan cahaya melalui cermin, lalu diteruskan hingga lensa objektif. Di lensa objektif bayangan yang dihasilkan adalah maya, terbalik dan diperbesar. Kemudian bayangan akan diteruskan dan menghasilkan bayangan tegak, nyata dan diperbesar oleh mata pengamat. Semakin banyak cahaya yang dipantulkan melalui cermin, maka akan semakin terang pula mikroorganisme yang dilihat. Mikroskop ini memiliki pembasaran objektif (10x dan 40x) serta pembesaran okuler (10x). Mikroskop elektron (Biokuler) berfungsi untuk melihat objek dengan bantuan elektron atau cahaya lampu. terdiri atas empat lensa objektif dengan empat pembesaran, 10x, 25x, 40x dan 100x. Saat pengunaan menggunakan pembesaran 100x, ditambahkan minyak emersi di atas gelas objek. Tujuannya adalah untuk mengurangi sudut bias akibat banyaknya cahaya yang dipantulkan. Tanpa minyak emersi, maka objek yang akan diteliti, tidak akan terllihat. Mikroskop ini digunakan saat melihat struktur dan melakukan pewarnaan bakteri. Mikroskop kamera (Triokuler) berfungsi sebagai pengambil gambar (objek). Lensa okuler yang terdapat dalam mikroskop ini sejumlah tiga lensa okuler. Mikroskop ini dapat mengambil gambar dari preparat. Maka dari itu, mikroskop ini hanya akan digunakan bila ingin mengambil gambar objek yang akan diamati. Prinsip kerjanya sama seperti mikroskop cahaya, hanya ada sedikit perbedaan dalam mengoperasikannya.

Centrifuge merupakan alat yang berfungsi sebagai pemisah zat dalam cairan yang diduga dapat mengendap dengan cara pemutaran menggunakan kekuatan rotasi. Dengan pemutaran kecepatan tertentu, zat-zat yang tidak terlarut akan mengendap. Satuaan yang digunakan pada centrifuge adalah Rpm (Rotation per meter). Perinsip kerja dari alat ini adalah zat yang akan dipisahkan dimasukkan kedalam tabung yang terdapat pada centrifuge, kemudian menutup lubang pada centrifuge agar udar yang masuk tidak mempengaruhi zat yang akan dipisah. Setelah itu tentukan waktu dan rotasi putaran yang diinginkan, dengan memutar tombol Timer dan Rotation.

Pipet volume adalah alat yang berfungsi sebagai pengambil larutan atau sampel sesuai dengan jumlah yang kita tentukan. Pipet gondok berfungsi sama seperti pipet volum, hanya saja pengambilan larutan sudah ditentukan. Cara sterilisasinya menggunakan otoklaf.

Tabung reaksi berfungsi sebagai tempat media pertumbuhan mikroba alam bentuk media tegak atau miring yang disumbat dengan kapas, dibulatkan lalu disterilkan dengan kapas berada tetap di atasnya dan diikat, sedangkan rak tabung sebagai tempat untuk meletakkan tabung reaksi. Tabung reaksi berfungsi untuk menyimpan mikroorganisme dalam medium nutrisi cair atau padat, untuk alat pengenceran, dan untuk pengujian mikrobiologis lainnya. Lingkungan steril pada tabung reaksi dipertahankan dengan adanya sumbat. Sumbat yang kita gunakan disini adalah sumbat kapas. Pemasangan sumbat kapas pada tabung reaksi harus benar. Apabila terdengar bunyi blub pada saat melepaskan sumbat maka sumbat itu telah benar. Lalu agar penyimpanan tabung reaksi rapih dan mudah digunakan, harus di simpan dan di letakkan di rak tabung. Tabung reaksi berfungsi sebagai tempat untuk melarutkan bahan, menampung larutan, dan tempat untuk mencampurkan bahan lalu dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer. Alat ini dapat disterilisasikan dengan dibungkus terlebih dahulu dengan kertas saring bagian atasnya lalu dibungkus dengan kertas dan diikat, lalu dimasukkan ke dalam otoklaf.

Laminar Air Flow (LAF) adalah alat yang berguna untuk bekerja secara aseptis dalam pekerjaan persiapan bahan tanaman, penanaman, dan pemindahan tanaman dari suatu botol ke botol yang lain dalam kultur in vitro. LAF mempunyai pola pengaturan dan penyaring aliran udara sehingga menjadi steril dan aplikasi sinar UV beberapa jam sebelum digunakan. Alat ini diberi nama Laminar Air Flow karena meniupkan udara steril secara kontinue melewati tempat kerja sehingga tempat kerja bebas dari debu dan spora-spora yang mungkin jatuh ke dalam media, waktu pelaksanaan penanaman. Aliran udara berasal dari udara ruangan yang ditarik ke dalam alat melalui filter pertama (pre-filter), yang kemudian ditiupkan keluar melalui filter yang sangat halus yang disebut HEPA (High efficiency Particulate Air FilterI), dengan menggunakan blower.

Ose berfungsi untuk mengambil dan menggores MO, terdiri dari ose lurus untuk menanam MO dan ose bulat untuk menggores MO yang biasanya berbentuk zig-zag.

Timbangan Analitik berfungsi untuk menimbang bahan kimia. Timbangan ini memiliki batas maksimal penimbangan. Jika melewati batas tersebut, maka ketelitian perhitungan akan berkurang.

Labu erlenmeyer berfungsi sebagai tempat penyimpanan medium, memanaskan larutan, dan menampung hasil dari penyaringan. Alat ini dapat disterilisasikan dengan ditutup terlebih dahulu bagian atas dengan kapas, lalu disterilisasi dengan menggunakan otoklaf.

Pada praktikum dan pengerjaan mikrobiologi, diperlukan suatu kondisi yang benar-benar aseptik dimana alat penunjang serta nutrient dan substrat harus benar-benar steril. Sterilisasi adalah suatu usaha untuk membebaskan alat-alat, bahan, dan kemasan dari segala macam bentuk kehidupan terutam mikro organism. Hal ini berarti mikroba kontaminan harus dimatikan. Untuk memperoleh kondisi yang steril dan bersih maka dilakukan sterilisasi. Metode sterilisasi yang umum digunakan secara rutin di laboratorium mikrobiologi adalah dengan menggunakan panas, metode sterilisasi dengan menggunakan panas dibagi menjadi 2 cara, yaitu sterilisasi kering dan sterilisasi basah.

Sterilisasi kering dapat diterapkan pada apa saja yang tidak rusak, menyala, hangus, dan menguap pada suhu setinggi itu. Bahan-bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini antara lain alat-alat gelas (botol, tabung reaksi, cawan petri, dan lain-lain) dan bahan-bahan ceperti kertas, kain, dan kapas. Sterilisasi kering menggunakan oven pada suhu 70-80 derajat celcius selama 2 jam. Bahan-bahan yang disterilkan harus dilindungi dengan cara membungkus, menyumbat atau menaruhnya dalam suatu wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi setelah dikeluarkan dari oven.

Sterilisasi basah dapat dilakukan dengan perebusan dengan suhu 100 derajat celcius selama 10 menit, blansing dengan suhu 70-85 derajat Celsius selama 7-9 menit, pasteurisasi dengan suhu 72 derajat celcius selama 7 detik, dan menggunakan autoclave. Sterilisasi dengan autoclave menggunkan uap air jenuh bertekanan pada suhu 121 oC selama 15 menit dengan tekanan 1 Atm. Cara ini selain di gunakan untuk sterilisasi alat, digunakan juga untuk bahan-bahan yang mengandung cairan yang tidak tahab udara panas yang kering, misalnya medium.

Pada praktikum dan pengerjaan mikrobiologi, diperlukan juga ruangan dan tempat kerja yang steril. Ruang yang steril merupakan suatu keadaan ruang yang bebas dari semua bentuk kehidupan mikroba yang patogen maupun yang non-patogen. Agar ruangan praktikum tetap steril, lakukanlah sterilisasi rutin terhadap alat-alat dan tempat kerja. Contohnya meja, semprotkan alkohol 70% ke meja. Dan bukan hanya ke meja, alkohol 70% juga dapat di semprotkan ke tempat kerja lainnya. Bila ada cairan tumpah di ruangan kerja kita, maka harus langsung di bersihkan agar ruangan kerja tetap steril.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SIMPULAN DAN SARAN

 

Simpulan

 Dalam praktikum mikrobiologi pangan terdapat berbagai macam alat-alat yang harus kita ketahui fungsi dan cara pengerjaannya agar praktikum mikrobiologi pangan dapat dilakukan dengan baik dan benar. Alat-alat laboratorium yang harus kita pelajari adalah mikroskop, cawan petri, tabung reaksi, pipet ukur, ball pipet, ose, bunsen, erlenmeyer, gelas ukur, spatula, pipet tetes, objek glass dan cover glass, tabung durham, dan beaker glass.

        Pada praktikum dan pengerjaan mikrobiologi, diperlukan suatu kondisi yang benar-benar aseptik dimana alat penunjang serta nutrient dan substrat harus benar-benar steril. Sterilisasi adalah suatu usaha untuk membebaskan alat-alat, bahan, dan kemasan dari segala macam bentuk kehidupan terutam mikro organism. Hal ini berarti mikroba kontaminan harus dimatikan. Untuk memperoleh kondisi yang steril dan bersih maka dilakukan sterilisasi. Metode sterilisasi yang umum digunakan secara rutin di laboratorium mikrobiologi adalah dengan menggunakan panas, metode sterilisasi dengan menggunakan panas dibagi menjadi 2 cara, yaitu sterilisasi kering dan sterilisasi basah. Sterilisasi tidak hanya dilakukan terhadap alat-alat laboratorium saja, tetapi ruangan dan tempat kerja pada pengerjaan mikrobioogi harus steril juga.

 

Saran

Dengan adanya praktikum seperti ini , mahasiswa dapat mengenal dan mengetahui cara menggunakan alat-alat laboratorium dalam praktikum Mikrobiologi Industri dan mengetahui metode aseptis yang dipergunakan dalam praktikum Mikrobiologi Industri.

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Day, R.A. Jr. and A.L. Underwood. 1998. Kimia Analisis Kuantitatif. Edisi Revisi, Terjemahan R. Soendoro dkk. Erlangga. Jakarta.

 

Dwidjoseputro, D.2003. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta

 

Harjadi ,W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT. Grammedia. Jakarta

Khusnuryani, Arifah.2006.Pedoman Praktikum Biologi.Yogyakarta:UIN Press

 

Millati, Tanwirul, dkk. 2010. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Industri. Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru

 

Rohman, Taifiqur. 1998. Penanganan Bahan Kimia Dengan Alat Gelas Kimia Serta Penanganan Korban Akibat Kontak Dengan Bahan Kimia. Makalah Seminar Pada Pelatihan Dosen Biokimia. Banjarbaru

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM KEMASAN PLASTIK

PENDAHULUAN

 

 

Landasan Teori

Pengertian umum dari kemasan adalah suatu benda yang digunakan untuk wadah atau tempat dan dapat memberikan perlindungan sesuai dengan tujuannya. Adanya kemasan dapat membantu mencegah/mengurangi kerusakkan, melindungi bahan yang ada di dalamnya dari pencemaran serta gangguan fisik seperti gesekan, benturan atau getaran. Dari segi promosi kemasan dapat berfungsi sebagai perangsang atau daya tarik pembeli (Esti, 2007).

Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai dari botol minum, TV, kulkas, pipa pralon, plastik laminating, gigi palsu, compact disk (CD), kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-alat militer hingga pestisida. Oleh karena itu kita bisa hampir dipastikan pernah menggunakan dan memiliki barang-barang yang mengandung Bisphenol-A. Salah satu barang yang memakai plastik dan mengandung Bisphenol A adalah industri makanan dan minuman sebagai tempat penyimpan makanan, plastik penutup makanan, botol air mineral, dan botol bayi walaupun sekarang sudah ada botol bayi dan penyimpan makanan yang tidak mengandung Bisphenol A sehingga aman untuk dipakai makan. Satu tes membuktikan 95% orang pernah memakai barang mengandung Bisphenol-A (Rachmawan, 2001).

Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan tetapi plastik juga beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga kita. Oleh karena itu kita harus mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai. Jenis-jenis plastik yaitu sebagai berikut :

1. PETE atau PET (polyethylene terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Botol-botol dengan bahan 1 dan 2 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.

2. HDPE (high density polyethylene) biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu. Sama seperti 1 PET, 2 juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian.

3. V atau PVC (polyvinyl chloride) adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.

4. LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan kode 4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan 4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.

5. PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.

6. PS (polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.

7. Other (biasanya polycarbonate) bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari bahan plastik Polycarbonate (Millati, 2010).

Dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas. Dianjurkan tidak digunakan untuk tempat makanan ataupun minuman. Ironisnya botol susu sangat mungkin mengalami proses pemanasan, entah itu untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave, atau dituangi air mendidih atau air panas (Syarif, 1989).

            Plastik mempunyai berbagai sifat yang menguntungkan, diantaranya:

a. Umumnya kuat namun ringan.

b. Secara kimia stabil (tidak bereaksi dengan udara, air, asam, alkali dan berbagai zat kimia lain).

c. Merupakan isolator listrik yang baik.

d. Mudah dibentuk, khusunya dipanaskan.

e. Biasanya transparan dan jernih.

f. Dapat diwarnai.

g. Fleksibel/plastis

h. Dapat dijahit.

i. Harganya relatif murah (Syarif, 1989).

Saat ini banyak sekali ditemukan kemasan dengan berbagai bahan, tetapi pada umumnya kemasan yang digunakan untuk benih tanaman pangan khususnya kedelai berupa plastik polyetheline dengan ketebalan bervariasi antara 0,05 – 0,08 mm. Bahan ini biasanya berciri lentur (elastis), buram (tidak bening) dan tidak kaku sehingga diharapkan tidak mudah pecah saat benih dalam kemasan tersebut ditransportasikan serta dapat mempertahankan mutu benih yang ada didalamnya. Lombok Barat yang merupakan daerah sentra produksi kedelai di Nusa Tenggara Barat, menggunakan jenis kemasan yang lebih kreatif lagi yaitu plastik polyetheline berlapis kertas semen didalamnya sehingga lebih menjamin keamanan benih baik dari segi mutu maupun transportasi (Herni, 2006).

 

Tujuan

Tujuan dari praktikum ini yaitu mahasiswa dapat mengenal berbagai jenis kemaan plastik, mengetahui sifat-sifat plastik dan bahan resin pembuat kemasan.

 

TATA CARA PENELITIAN

 

 

Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 3 Maret 2010 pukul 14.25-16.05 WITA. Bertempat di laboraturium Pengolahan Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

 

Bahan dan Alat

Bahan yag digunakaan adalah Plastik polietilen, PVC, PET, PS, kemasan botol, air mendidih, korek api, larutan asam, larutan basa, pelarut polar dan non polar.

 

Prosedur Kerja

  1. Uji Bakar Plastik

 

1 lembar plastik

Dilakukan pengamatan terhadap kemudahan terbakar, kecepatan rambat nyala api,

warna nyala api, pembentukan asap, warna asap dan bau yang timbul.

Hasil

Digulung dan dibakar pada salah satu ujungnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Identifikasi kemasan botol

 

Produk

Diidentifikasi jenis kemasan , bahan yang dikemas, bahan pembuat kemasan,

dan simbol pada kemasan.

Hasil

 

 

 

 

 

 

 

Air

Pengujian Hot filled

 

Dipanaskan sampai mendidih

Diamati apakah berubah bentuk atau tidak

Kemudian diisikan air mendidih ke dalam kemasan yang diujicobakan

Hasil

A

A

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Uji ketahanan asam basa dan pelarut

 

Diamati perubahan yang terjadi

Diujicobakan dengan larutan asam, basa, pelarut polar dan non polar dengan direndam selama 24 jam

Dipotong beberapa jenis yang berbeda

Hasil

Plastik

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

Hasil

 

Tabel 1. Uji Bakar Plastik

No.

Nama Produk

Kemudahan Terbakar

Kecepatan Rambat Nyala api

Warna Nyala Api

1.

Gelas Aqua

Mudah

Cepat

Jingga

2.

Nu Milk Tea

Sulit

Cepat

Jingga

3.

Frestea

Mudah

Lambat

Jingga

4.

Prof. Botol

Mudah

Cepat

Biru Jingga

5.

Head & Shoulders

Mudah

Lambat

Biru Jingga

6.

Indomie Soto Banjar

Mudah

Cepat

Biru Jingga

7.

Cannon Ball

Mudah

Cepat

Biru Jingga

8.

Royco

Mudah

Lambat

Jingga

 

Pembentukan Asap

Warna Asap

Bau

Ada

Putih

Menyengat

Ada

Hitam

Menyengat

Ada

Hitam

Menyengat

Ada

Hitam

Menyengat

Ada

Putih

Menyengat

Ada

Putih

Menyengat

Ada

Putih

Menyengat

Ada

Putih

Menyengat

 

 

Tabel 2. Identifikasi Kemasan Botol

 

No.

Nama Produk

Bahan yang Dikemas

Bahan Resin

Simbol

1.

Aquarius

Pangan Cairan

 

2.

Mizone

Pangan Cairan

 

3.

Indomilk

Pangan Cairan

 

4.

Prof

Pangan Cairan

 

5.

Fruitamin

Pangan Cairan

 

6.

Indomie

Pangan Padatan

 

7.

Enaak Plain

Pangan Cairan

 

8.

Sunlight

Non Pangan Cairan

 

 

Tabel 3. Pengujuan Hot Filled

 

No.

Nama Produk

Perubahan yang Terjadi

1.

Mizone

Mengkerut (25.5 detik)

 

2.

Coca Cola

Mengkerut (31.7 detik)

 

3.

Pantene

Tidak mengkerut (59.6 detik)

 

4.

Ades

Mengkerut (1 menit 7.6 detik)

 

Tabel 4. Uji Ketahanan Asam Basa dan Pelarut

No.

Nama Produk

Bahan Resin

Reaksi Pada

Larutan Asam

(H2SO42M)

Larutan Basa

(NaOH 2M)

Larutan Polar

(Dietil Eter)

Larutan Nonpolar

(Aquades)

1.

Sunlight

 

Warna tidak luntur, pada bagian sisi ujung plastik mengkerut, tidak lengket pada wadah perendaman dan permukaan kesat

Keadaan plastik tetap, tidak mengkerut, warna tidak berubah, tidak lengket pada wadah perendaman dan permukaan kesat

Keadaan plastik tetap, tidak mengkerut, warna pada kemasan tetap, tidak mengkerut, tidak lengket pada wadah perendaman dan permukaan kesat

Warna pada kemasan tetap, plastik terbuka menjadi dua bagian, tidak mengkerut, tidak lengket dan permukaan sedikit licin

2.

Ale-ale

 

Kesat, warna tidak berubah, keadaan plastik utuh, tidak mengkerut, tidak lengket pada wadah perendaman

Apabila permukaan plastik digosokkan dengan pengungkit warnanya akan luntur, licin, keadaan plastik utuh, tidak mengkerut dan tidak lengket pada wadah perendaman

Warna tetap, keadaan plastik utuh, tidak mengkerut, tidak lengket pada wadah perendaman dan kesat

Warna tidak berubah, keadaan plastik utuh, tidak mengkerut, dapat diambil, tidak lengket pada wadah perendaman dan licin

3.

Citra

 

Plastik kemasan luar terkelupas namun tidak semua nya, sedikit mengkerut, kesat dan tidak lengket pada wadah perendaman

Apabila permukaan plastik digosokkan dengan pengungkit warnanya akan luntur, licin, tidak mengkerut, dan tidak lengket pada permukaan wadah perendaman

Sedikit mengkerut, kesat, plastik kemasan luar terkelupas namun tidak semuanya, warna tetap dan tidak lengket pada wadh perendaman

Plastik keamsan luar terkelupas namun tidak semuanya, sedikit mengkerut, licin sedikit kesat, warna tetap, tidak lengket pada wadah perendaman

4.

Indomilk Label

 

Sedikt mengkerut, kesat, warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman

Permukaan licin, tidak mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman

Kesat, sedikit mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman

Mengkerut, warna sedikit berubah, licin dan tidak lengket pada wadah perendaman

5.

Indomilk Kemasan

 

Kesat, tidak mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman

Licin, sampel menggulung, warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman

Kesat, tidak mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman

Licin, tidak mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman

6.

Mie Keriting

 

Mengkerut, kesat, tidak lengket dengan wadah dan warna tetap

Lengket dengan wadah, warna luntur, mengkerut dan  licin

Mengkerut, kesat, warna tidak luntur, dan tidak lengket dengan wadah

Lengket dengan wadah, warna luntur, tidak mengkerut dan  licin

7.

Lifebuoy

 

Mengkerut pada bagian ujung kemasan,  licin, warna tetap dan tidak mengkerut

Licin, tidak lengket pada wadah, warna tetap dan tidak mengkerut

Kesat, tidak lengket dengan wadah, tidak mengkerut dan warna tetap

Licin, lengket dengan wadah, tidak mengkerut dan warna tetap

8.

Nestle

 

Mengkerut pada bagian ujung, warna tetap, kesat dan tidak lengket pada kemasan

Licin, tidak mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada kemasan

Kesat, tidak mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada kemasan

Licin, tidak mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada wadah

 

 

Pembahasan

Plastik merupakan senyawa polimer tinggi yang dicetak dalam lembaran-lembaran dan mempunyai ketebalan yang berbeda-beda. Plastik dibuat dari resin baik alami atau sintetik yang tersusun dari banyak monomer, yaitu rantai paling pendek, sehingga terbentuk suatu polimer. Plastik dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis berdasarkan struktur kimianya, yaitu liniar bila monomer membentuk rantai polimer yang lurus, dan jaringan tiga dimensi bila monomer berbentuk 3dimensi akibat polimerisasi berantai.

Berdasarkan struktur kimianya, maka polimer dari plasik dibedakan atas :

1.  Linier, bila monomer membentuk rantai polimer yang lurus, dan akan terbentuk plastik thermoplastik yang mempunyai sifat meleleh pada suhu tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu dan sifatnya yang dapat balik (reversible) yaitu dapat kembali mengeras bila didinginkan.

2.  Jaringan tiga dimensi, bila monomer berbentuk  tiga dimensi akibat polimerisasi berantai, akan terbentuk plastik termoseting yang bersifat tidak dapat mengikuti perubahan suhu dan irreversibel.  Bila plastik termoseting yang mengeras dipanaskan maka bahan tidak dapat lunak kembali, tetapi akan membentuk arang dan terurai.  Jenis plastik ini sering digunakan sebagai tutup ketel seperti jenis-jenis melamin (Julianti dan Mimi, 2006).

            Adapun beberapa jenis kemasan plastik yang sering digunakan antara lain :

  1. Polyethylen

Polietilen  merupakan  film  yang  lunak,  transparan  dan  fleksibel,  mempunyai

kekuatan  benturan  serta  kekuatan  sobek  yang  baik.  Dengan  pemanasan  akan menjadi lunak dan  mencair pada suhu 110OC. Berdasarkan sifat permeabilitasnya yang  rendah  serta  sifat-sifat  mekaniknya  yang  baik,  polietilen  mempunyai ketebalan  0.001  sampai  0.01  inchi,  yang  banyak  digunakan  sebagai  pengemas makanan,  karena  sifatnya  yang  thermoplastik,  polietilen  mudah  dibuat  kantung dengan derajat kerapatan yang baik. Konversi etilen menjadi polietilen (PE) secara komersial semula dilakukan dengan tekanan tinggi, namun  ditemukan  cara  tanpa  tekanan  tinggi. 

Polietilen  dibuat  dengan  proses  polimerisasi  adisi  dari  gas  etilen  yang diperoleh  dari  hasil  samping  dari  industri  minyak  dan  batubara.  Proses polimerisasi  yang  dilakukan  ada  dua  macam,  yakni  pertama  dengan polimerisasi yang  dijalankan  dalam  bejana  bertekanan  tinggi  (1000-3000  atm)  menghasilkan molekul makro dengan banyak percabangan yakni campuran dari rantai lurus dan bercabang. Cara kedua, polimerisasi dalam bejana bertekanan rendah (10-40 atm) menghasilkan molekul makro berantai lurus dan tersusun paralel.

  1. Low Density Polyethylen (LDPE)

Sifat mekanis jenis plastik LDPE adalah kuat, agak tembus cahaya, fleksibel

dan permukaan agak berlemak. Pada suhu di bawah 60OC sangat resisten terhadap senyawa kimia, daya proteksi terhadap uap air tergolong baik, akan tetapi kurang baik  bagi  gas-gas  yang  lain  seperti  oksigen,  sedangkan  jenis  plastik  HDPE mempunyai sifat lebih kaku, lebih keras, kurang tembus cahaya dan kurang terasa berlemak.

  1. High Density Polyethylen (HDPE).

Pada  polietilen  jenis  low  density  terdapat  sedikit  cabang  pada  rantai  antara

molekulnya  yang  menyebabkan  plastik  ini  memiliki  densitas  yang  rendah,

sedangkan  high  density  mempunyai  jumlah  rantai  cabang  yang  lebih  sedikit dibanding jenis low density. Dengan demikian, high density  memiliki sifat bahan yang  lebih  kuat,  keras,  buram  dan  lebih  tahan  terhadap  suhu  tinggi.  Ikatan hidrogen  antar  molekul  juga  berperan  dalam  menentukan  titik  leleh  plastik.

  1. Polypropilena

Polipropilen  sangat  mirip  dengan  polietilen  dan  sifat-sifat  penggunaannya juga  serupa. Polipropilen  lebih  kuat  dan  ringan  dengan  daya tembus  uap  yang  rendah,  ketahanan  yang  baik  terhadap  lemak,  stabil  terhadap suhu  tinggi  dan  cukup  mengkilap. polypropilen  diperoleh  dengan  pemecahan  secara  thermal  naphtha  (distalasi minyak  kasar)  etilen,  propylene  dan  homologues  yang  lebih  tinggi  dipisahkan dengan  distilasi  pada  temperatur  rendah. 

  1. Polivinil Klorida (PVC)

Polivinil  Klorida  dibuat  dari  monomer  yang  mngandung  gugus  vinil.  PVC

mempunyai  sifat  kaku,  keras,  namun  jernih  dan  lengkap,  sangat  sukar  ditembus air  dan  permeabilitas  gasnya  rendah.  Pemberian  plasticizers  (biasanya  ester aromatik)  dapat  melunakkan  film  yang  membuatnya  lebih  fleksibel tetapi regang putusnya rendah, tergantung jumlah plasticizers yang ditambahkan.

  1. Vinilidin Khlorida (VC)

Mengandung  dua  atom  klorin,  merupakan  bahan  padat  yang  keras,  bersifat

tidak  larut  dalam  sebagian  besar  pelarut  dan  daya  serap  airnya  sangat  rendah. Dapat  menghasilkan  film  yang  kuat,  jernih  dengan  permeabilitas  terhadap  gas cukup rendah.

  1. Politetrafluoroetilen (PTFE)

Bersifat sangat inert terhadap reaksi-reaksi kimia. Polimer ini bersifat halus,

berlemak  dan  umumnya  berwarna  abu-abu.  Koefisien  gesekannya  sangat  rendah sehingga menghasilkan permukaan yang tidak mudah lengket serta bertahan pada daerah suhu kerja yang luas.

  1. Polistiren (PS)

Bersifat  sangat  amorphous  dan  tembus  cahaya,  mempunyai  indeks  refraksi

tinggi,  sukar  ditembus  oleh  gas  kecuali  uap  air. Dapat  larut  dalam  alcohol  rantai panjang, kitin, ester hidrokarbon yang mengikat khlorin. Polimer ini mudah rapuh, sehingga banyak dikopolimerisasikan dengan batu diena atau akrilonitril.

Penggunaan bahan plastik sebagai pengemas dilakukan dengan tujuan salah satunya yaitu praktis dan ringan. Plastik digolongkan menjadi 7 jenis yaitu PETE, HDPE, PVC, LDPE, PP, PS dan OTHER. Pada praktikum ini, bahan yang digunakan yaitu PET , PP, V, HDPE LDPE, PP, dan OTHER. 

Uji bakar plastik merupakan suatu bentuk pengujian yang dapat digunakanuntuk mengidentifikasi jenis polimer dari suatu plastik dengan pembakaran plastik  pada nyala api. Uji bakar plastik terdiri dari pengujian kemudahan terbakar, kecepatan rambat nyala api, warna api, pembentukan asap, warna asap dan bau saat terbakar. Kemudahan terbakar dari pengemas tergantung dari ketebalan bahan yang digunakan untuk mengemas suatu bahan. Seperti plastik Nu Milk Tea yang merupakan plastik yang paling tebal diantara bahan yang digunakan dalam praktikum, plastik Nu Milk Tea memiliki kesulitan tertinggi untuk dibakar dibandingkan tujuh plastik lainnya.

Kecepatan rambat nyala api dari bahan pengemas tergantung dari kerapatan unsur penyusun plastik tersebut. Plastik Gelas Aqua, Nu Milk Tea, Prof Botol, Indomie Soto Banjar dan Cannon Ball merupakan kemasan dengan kerapatan penyusun rendah sehingga sangat mudah sobek dan kecepatan rambat nyala api tinggi. Kemasan yang kecepatan rambatnya sedang atau lambat memiliki kerapatan yang baik sehingga tidak mudah pecah atau sobek.

Warna nyala api dari bahan praktikum yaitu warna jingga dan biru jingga. Pembentukan asap terjadi pada semua kemasan, hal ini berpengaruh terhadap ketebalan serta jumlah komposisi plastik itu sendiri. Hal ini juga berpengaruh terhadap warna asap dan bau.

Identiikasi kemasan plastik yaitu air Aquarius, Mizone, Prof dengan kemasan botol menggunakan bahan resin PET, hanya dapat digunakan untuk satu kali pakai dan dapat didaur ulang. Kemasan dengan resin ini tidak dapat digunakan untuk mengemas bahan dengan suhu panas karena komponen penyusun plastik akan bereaksi dengan air panas dan larut ke dalam tubuh konsumen.

Bahan resin yang digunakan untuk kemasan plastik Fruitamin dan Indomie adalah PP dengan logo daur ulang 5. Kemasan ini dapat digunakan sebagai tempat mengemas bahan yang bersuhu panas karena komponen penyusunnya tidak bereaksi dengan air panas sehingga aman digunakan untuk mengemas bahan panas. Bahan resin yang digunakan untuk kemasan Indomilk adalah HDPE dengan logo daur ulang 2. Kemasan ini digunakan pada botol susu, tupperware, galon air minum, kursi lipat. Namun, disarankan untuk tidak dipakai berulang kali. Kandungan senyawa antimoni trioksidanya yang tidak baik untuk kesehatanakan meningkat seiring waktu. Bahan resin yang digunakan pada kemasan Sunlight  adalah OTHER dengan logo daur ulang 7. Kemasan ini bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari bahan plastik Polycarbonate.

Pengujian hot filled pada Pantene tidak terjadi perubahan apapun pada bahan terebut karena bahan tersebut tahan terhadap panas. Pada plastik Mizone, Coca Cola, dan Ades terjadi pengkerutan, hal yang sangat mempengaruhi hal ini yaitu kandungan dari bahan tersebut.

Uji ketahanan terhadap asam, basa, pelarut polar dan non polar pada kemasan. Kemasan yang digunakan dalam pengujian ini adalah sunlight, Ale-ale, Citra, Indomilk kemasan, Mie Keriting, Lifebuoy, dan Nestle. Larutan polar yang digunakan adalah dietil eter dan untuk non polarnya digunakan aquades. Asam yang digunakan ialah H2SO4 2M dan Basa yang digunakan adalah NaOH 2M. Kemasan plastik yang telah dipotong kecil masing-masing dilakukan perendaman pada larutan diatas cawan petri selama 24 jam. Setelah itu diamati dan dicatat perubahan apa yang terjadi pada kemasan plastik tersebut.

Pada uji tahan asam yang dilakukan dengan penambahan H2SO4 pada kemasan plastic. Maka hasil yang didapatkan dari perendaman ini adalah umumnya sampel kemasan plastik mengkerut setelah proses perendaman tetapi pada perendaman sampel kemasan indomilk dan kemasan lifebuoy tidak mengkerut. Warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman untuk semua sampel yang diuji. Perendaman dengan asam ini dapat disimpulakan bahwa pada umumnya tidak merusak kemasan plastik tersebut.

Pada uji perendaman dengan basa yang menggunakan larutan NaOH 2M. Dari pengujian yang telah dilaksanakan didapatkan hasil dengan tekstur kemasan plastik yang licin pada setiap sampel kemasan dan juga tidak lengket pada wadha perendamannya. Pada sampel citra dan mie keriting, warna dari kemasan tersebut luntur sedangakan pada sampel lain tidak.

Perendaman dengan pelarut polar yang digunakan dalam uji ini adalah dietil eter. Dalam perendaman dengan pelarut polar ini didapatkan hasil yang hampir sama terhadap semua sampel kemasan plastik yang direndam. Prendaman dengan dietil eter ini menghasilkan kesat pada kemasan plastik namaun tidak merusak warna serta tidak lengket pada perendaman. Sedangkan pada sampel kemasan plastik yang tipis kemasan tersebut mengkerut setelah dilakukan perendaman. Hal yang dapat diambil dalam pengujian ini adalah pelarut polar bereaksi dengan bahan kimia dalam kemasan plastik menghasilkan tekstur yang kesat namun tidak merubah atau merusak struktur warna dari kemasan plastik tersebut.

Perendaman dengan pelarut non polar didapat hasil yaitu semua kemasan plastik yang dilakukan perendaman selama 24 jam  licin pada setiap sampel. Pada sampel mie keriting dan lifebuoy kemasan yang diamati lengket dengan wadah perendaman. Pada sampel citra sedikit mengkerut. Pada sampel indomilk label mengkerut sedangkan pada sampel lainnya tidak mengkerut. Warna kemasan yang luntur terdapat pada kemasan plastik mie keriting dan indomilk label sedangkan pada kemasan lainnya warnanya tetap. 

 

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah :

  1. Kemasan plastik memiliki banyak jenis dari sudut pandang polimer/bahan pembentuk kemasan plastik tersebut.
  2. Kemasan plastik dapat diklasifikasikan berdasarkan struktur sistem kemasnya ada kemasan primer dan kemasan sekunder.
  3. Terdapat perbedaan ketahanan dari setiap bahan pembentuk plastik, tergantung dari bahan/polimer penyusunnya
  4. Kemasan plastik dibuat berdasarkan sifat kepolaran produk yang akan dikemas.

 

Saran

Sebaiknya, dalam memilih suatu produk makanan yang ingin dikonsumsi, harus memperhatikan kemasan dari produk tersebut. Agar kita dapat memilih produk yang sehat dan sesuai dengan kebutuhan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Esti Rahayu1, Eny Widajati2*. 2007. Pengaruh Kemasan, Kondisi Ruang Simpan dan Periode Simpan terhadap Viabilitas Benih Caisin. Jurnal Penelitian Pertanian. Bul. Agron. (35) (3) 191 – 196 (2007)

 

Herni Susilowati, 2006. Kemasan Benih Kedelai Untuk Transportasi. Balai Besar-Ppmbtph, Tapos, Depok

 

Julianti, E dan Mimi, N. 2006. Teknologi Pengemasan. Laporan Penelitian.    Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

 

Millati, Tanwirul, dkk. 2010. Penuntun Praktikum Teknologi Pengemasan dan Penyimpanan. Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru

 

Rachmawan, Obien. 2001. Modul Dasar Pengeringan, Pendinginan dan Pengemasan Komoditas Pertanian. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta.

 

Syarief, R., S.Santausa, St.Ismayana B. 1989. Teknologi Pengemasan Pangan. Laboratorium Rekayasa Proses Pangan, PAU Pangan dan Gizi, IPB.

Lirik Lagu MAROON 5 One More Night

You and I go hard at each other like we’re going to war.

You and I go rough, we keep throwing things and slamming the door.

You and I get so damn dysfunctional, we stopped keeping score.

You and I get sick, yeah, I know that we can’t do this no more.

 

But baby there you go again, there you go again, making me love you.

Yeah, I stopped using my head, using my head, let it all go.

Got you stuck on my body, on my body, like a tattoo.

And now I’m feeling stupid, feeling stupid, crawling back to you.

 

So I cross my heart and I hope to die

That I’ll only stay with you one more night

And I know I said it a million times

But I’ll only stay with you one more night

 

Trying to tell you “no” but my body keeps on telling you “yes”.

Trying to tell you to stop, but your lipstick got me so out of breath.

I’d be waking up in the morning, probably hating myself.

And I’d be waking up, feeling satisfied but guilty as hell.

 

But baby there you go again, there you go again, making me love you.

Yeah, I stopped using my head, using my head, let it all go.

Got you stuck on my body, on my body, like a tattoo.

And now I’m feeling stupid, feeling stupid, crawling back to you.

 

So I cross my heart and I hope to die

That I’ll only stay with you one more night

And I know I said it a million times

But I’ll only stay with you one more night

 

Yeah, baby give me one more night [x3]

 

But baby there you go again, there you go again making me love you.

Yeah, I stopped using my head, using my head, let it all go.

Got you stuck on my body, on my body like a tattoo.

Yeah, yeah, yeah, yeah

 

So I cross my heart and I hope to die

That I’ll only stay with you one more night

And I know I said it a million times

But I’ll only stay with you one more night

(Yeah, baby give me one more night)

 

So I cross my heart and I hope to die (yeah, yeah)

That I’ll only stay with you one more night (yeah, yeah)

And I know I said it a million times (yeah, yeah)

But I’ll only stay with you one more night (yeah, yeah)

 

LAPORAN PRAKTIKUM KEMASAN GELAS

PENDAHULUAN

Landasan Teori

Ruang lingkup bidang pengemasan saat ini juga sudah semakin luas, dari mulai bahan yangsangat bervariasi hingga model atau bentuk dan teknologi pengemasan yang semakin canggih danmenarik.  Bahan kemasan yang digunakan bervariasi dari bahan kertas, plastik, gelas, logam, fiberhingga bahan-bahan yang dilaminasi.  Namun demikian pemakaian bahan-bahan seperti papankayu, karung goni, kain, kulit kayu , daun-daunan dan pelepah dan bahkan sampai barang-barangbekas seperti koran dan plastik bekas yang tidak etis dan hiegenis juga digunakan sebagai bahanpengemas produk pangan. Bentuk dan teknologi kemasan juga bervariasi dari kemasan botol, kaleng,tetrapak, kemasan vakum, kemasan aseptik, kaleng bertekanan, kemasan tabunghingga kemasan aktif dan pintar yang dapat menyesuaikan kondisilingkungan di dalam kemasan dengan kebutuhan produk yang dikemas.  Minuman teh dalamkantong plastik, nasi bungkus dalam daun pisang, sekarang juga sudah berkembang menjadi kotak-kotak katering sampai minuman anggur dalam botol dan kemasan yang cantik berpita merah (Fardiaz, 1990).

            Pengertian umum kemasan adalah suatu benda yang digunakan untuk wadah atau tempat dan dapat memberikan perlindungan sesuai dengan tujuannya. Adanya kemasan dapat, membantu mencegah/mengurangi kerusakan, melindungi bahan yang ada di dalamnya dari pencemaran serta ganguan fisik seperti gesekan, benturan dan getaran. Dari segi promosi kemasan berfungsi perangsang atau daya tarik pembeli Dari segi promosi kemasan dapat berfungsi sebagai perangsang atau daya tarik pembeli (Syarief, 1989).

            Gelas adalah benda yang transparan, lumayan kuat, biasanya tidak bereaksi dengan barang kimia, dan tidak aktif secara biologi yang bisa dibentuk dengan permukaan yang sangat halus dan kedap air. Oleh karena sifatnya yang sangat ideal gelas banyak digunakan di banyak bidang kehidupan. Tetapi gelas bisa pecah menjadi pecahan yang tajam. Sifat kaca ini bisa dimodifikasi dan bahkan bisa diubah seluruhnya dengan proses kimia atau dengan pemanasan (Fellows, 2000).

Ada beberapa sifat gelas yang bisa dikatakan memiliki kelebihan dibanding dengan material lainnya, antara lain:

  1. Sifat estetika atau keindahan
  2. Sifat tembus pandang secara optik (transparan)
  3. Sifat elastic
  4. Sifat ketahanan terhadap zat/reaksi kimia

Namun kekurangan dari gelas adalah sifat nya yang getas dan mudah pecah

            Gelas terdiri dari oksida-oksida logam dan non logam. Bahan baku pembuatan gelas adalah :

  1. Pasir silica (SiO2)
  2. Soda abu (Na2CO3) yang dengan pembakaran pada suhu tinggi akan terbentuk Na2O sehingga gelas tampak jernih
  3. Batu kapur (CaO) yang berfungsi untuk memperkuat gelas
  4. Pecahan gelas (kaca) disebut cullet (calcin) untuk memudahkan proses peleburan, ditambahkan antara 15-20%
  5. AI2O3 dan boraksida (B2O3), titanium dan zirconium untuk meningkatkan ketahanan dan kekerasan gelas
  6. Borax oksida pada gelas boroksilat seperti pyrex berfungsi agar gelas lebih tahan pada suhu tinggi
  7. Na2SO4 atau As2O3 untuk menghaluskan dan menjernihkan (Millati, 2010).

Untuk membuat agar kemasan gelas bersifat inert dan netral maka gelas dicelupkan dalam larutan asam. Untuk melinungi permukaan gelas maka diberi laminasi silikon polietilen glikol atau polietilen stearat. Sifat gelas yang stabil menyebabkan gelas dapat disimpan dalam  jangka  waktu panjang tanpa kerusakan (Millati, 2010).

Warna gelas dapat diatur dengan menambahkan sejumlah kecil oksida-oksida logam seperti Cr, Co dan Fe. Wadah gelas kedap terhadap semua gas sehingga menguntungkan bagi minuman berkarbonasi karena keepatan difusinya sama dengan 0. Wadah gelas barrier terhadap benda padat, cair dan gas sehingga baik sebagi pelindung terhadap kontaminasi bau dan cita rasa. Sifat-sifat ketahanan gelas dapat diawetkan dengan cara memberi lapisan yang tidak bereaksi dengan gelas, misalnya minyak silikon, oksida logam, lilin, resin, belerang dan polietilen (Millati, 2010).

Walaupun mudah pecah tetapi gelas mempunyai kekuatan mekanik yang tinggi. Wadah gelas lebih tahan terhadap kompresi dari dalam dibandingkan tekanan dari luar. Siat seperti ini penting untuk pembotolan minuman berkarbonasi. Daya tahan gelas dapat mencapai 1,5×105 kg/cm2. Daya tahan ini dipengaruhi oleh komposisi, ketebalan, dan bentuk dari wadah gelas (Millati, 2010).

Gelas adalah benda yang transparan, lumayan kuat, biasanya tidak bereaksi dengan barang kimia, dan tidak aktif secara biologi yang bisa dibentuk dengan permukaan yang sangat halus dan kedap air. Oleh karena sifatnya yang sangat ideal gelas banyak digunakan di banyak bidang kehidupan. Tetapi gelas bisa pecah menjadi pecahan yang tajam. Sifat kaca ini bisa dimodifikasi dan bahkan bisa diubah seluruhnya dengan proses kimia atau dengan pemanasan (PT Iglas, 1990).

Ada beberapa sifat gelas yang bisa dikatakan memiliki kelebihan dibanding dengan material lainnya, antara lain:

  1. Sifat estetika atau keindahan
  2. Sifat tembus pandang secara optik (transparan)
  3. Sifat elastis
  4. Sifat ketahanan terhadap zat/reaksi kimia (PT Iglas, 1990).

Namun kekurangan dari gelas adalah sifatnya yang getas dan mudah pecah. Gelas mempunyai beberapa definisi teknis yang tergantung dari proses pembentukan gelas, struktur atom dan keadaan thermodinamisnya (PT Iglas, 1990).

Gelas adalah material non-organik hasil dari proses pendingan tanpa melalui proses kristalisasi. Gelas adalah benda padat yang tidak mempunyai struktur seperti halnya keramik atau logam (PT Iglas, 1990).

 

Tujuan

Tujuan dari praktikum ini dilakukan adalah agar mahasiswa dapat mengenal berbagai kemasan gelas dan mahasiswa dapat mengidentifikasi sebagai kemasan gelas.

 

 

 

 

 

 

 

 

TATA CARA PENELITIAN

 

 

Waktu dan Tempat

            Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 25 Februari 2013 pukul 16.00-18.00 Wita bertempat di laboratorium PHP Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

 

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada saat praktikum ini adalah berbagai jenis kemasan gelas baik pangan maupun non pangan, timbangan serta alat dokumentasi.

 

Prosedur Kerja

           

Bahan

           

 

Diamatai dan diukur warna kemasan, bahan kemasan, bahan penutup kemasan, bahan yang dikemas, berat kemasan, diameter bawah dan atas kemasan, batas antara bahan yang dikemas dengan penutup kemasan, easy of unpacking, easy of resealing, kontur permukaan kemasan dan penggunaan kemasan.

Hasil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                    

 

Pembahasan

Gelas bukan benda padat, tapi benda cair dengan kekentalan yang sangat tinggi dan bersifattermoplastis. Sifat fluida gelas bervariasi menurut suhu. Titik lebur dan titik beku tidak diketahui,dan ini merupakan keadaan kaca.Bahan gelas sesuai digunakan untuk produk pangan yang mengalami pemanasan seperti pasteurisasiatau sterilisasi.  Gelas jenis pyrex tahan terhadap suhu tinggi. Umumnya perbedaan antara suhubagian luar dan bagian dalam gelas tidak boleh lebih dari 270C, sehingga pemanasan botol harusdilakukan perlahan-lahan. Konduktivitas panas gelas 30 kali lebih kecil dari pada konduktivitas panas besi. Walaupun mudah pecah tetapi gelas mempunyai kekuatan mekanik yang tinggi. Wadah gelas lebihtahan terhadap kompresi dari dalam dibandingkan tekanan dari luar.  Sifat seperti ini penting untukpembotolan minuman berkarbonasi. Daya tahan gelas dapat mencapai 1,5 x 105kg/cm2.  Daya tahanini dipengaruhi oleh komposisi, ketebalan dan bentuk dari wadah gelas.

Pada praktikum ini dilakukan terhadap 12 jenis kemasan gelas seperti yang ada dalam table di atas. Komponen- komponen yang diamati antara lain warna kemasan, bahan penutup, bahan yang dikemas, diameter atas dan bawah kemasan, easy of unpacking, easy of resealing serta kontur permukaan kemasan.

Warna gelas dapat diatur dengan menambahkan sejumlah kecil oksida-oksida logam seperti Cr, Codan Fe. Sifat semi opaq diberikan dengan penambahan florin. Penambahan senyawa-senyawa tersebut dilakukan pada proses pembuatan wadah gelas. Botol yang berwrna hijau berarti pada proses pembuatannya ditambahkan besi sulfat atau krom oksida. Sedangkan warna gelap ditambahkan besi oksida dalam jumlah banyak. Untuk warna bening bahan yang ditambahkan biasanya Natrium Oksida.

     Warna kemasan dari masing-masing produk dibuat berbeda-beda sesuai dengan fungsinya. Warna kemasan yang diamati dari praktikum yaitu bening, dan cokelat. Warna bening produk digunakan untuk yang tidak begitu berpengaruh pada cahaya yang mengenai kemasan produk. Warna cokelat digunakan untuk mengemas produk yang tidak tahan cahaya sehingga produk terlindung dari cahaya yang mengenai kemasan. Warna cokelat gelap mampu menahan cahaya yang mengenai produk sehingga produk yang ada dalam kemasan tidak rusak oleh cahaya. Begitu pula dengan gelas berwarna hijau, seperti kemasan minyak angin, warna hijau mampu menahan agar aroma dari minyak angin tetap bertahan lama dan tidak hilang. Wadah gelas kedap terhadap semua gas sehingga menguntungkan bagi minuman berkarbonasi karena kecepatan difusinya sama dengan 0. Wadah gelas barrier terhadap benda padat, cair dan gassehingga baik sebagai pelindung terhadap kontaminasi bau dan cita rasa. Sifat-sifat ketahanan gelas dapat diawetkan dengan cara memberi lapisan yang tidak bereaksi dengan gelas, misalnya minyaksilikon, oksida logam, lilin. Resin, belerang, polietilen.

Bentuk kemasan dari produk-produk yang diteliti diolah dengan desain yang mampu menarik perhatian konsumen. Penutup kemasan yang digunakan untuk menutup kemasan harus aman dan tidak bereaksi dengan produk yang dikemas. Penutup kemasan yang terbuat dari logam terdapat karet di balik tutupnya agar produk tidak terkena langsung dengan logam.

Bahan yang dikemas dari kemasan gelas yaitu berwujud gel, cair, dan kental. Dengan wujud tersebut, diameter atas kemasan harus dibuat agar produk dapat keluar dengan mudah dari dalam kemasan. Kemudahan produk keluar/dikeluakan dari dalam kemasan merupakan kemudahan untuk dihabiskan (easy of resealing). Produk berwujud cair tidak mempunyai masalah bila diameter atas botol berukuran kecil, karena produk di dalamnya masih dapat keluar. Berbeda dengan produk sengan wujud gel. Produk ini harus dikemas dalam kemasan berdiameter besar, seperti kemasan selai atau botol jar, dan kemasan balsam. Kemasan yang digunakan untuk mengemas produk yang berwujud kental diameternya berbeda-beda tergantung dari tingkat kekentalannya. Sebagai contoh, ABC Spesial Grade merupakan sirup berbentuk cair, lubang atasnya berdiameter kecil, namun produk tersebut tetap bisa keluar dari kemasan. Sedangkan Balsem tingkat kekentalannya berbeda dengan , ABC Spesial Grade, sehingga tidak bisa dikemas dalam kemasan dengan diameter lubang kecil.

Yang perlu diperhatikan dalam memilih gelas sebagai kemasan antara lain adalah easy of unpacking dan easy of resealing. Easy of unpacking berarti gelas tersebut mudah mengeluarkan isisnya sedangkan easy of resealing adalah gelas mudah dituup kembali setelah digunakan. Dari data di atas ada beberapa gelas yang mudah dibuka dan ditutup kembali dan ada yang sulit. Gelas yang mudah dibuka dan ditutup umumnya gelas yang berfungsi untuk kemasan makannan. Untuk gelas yang tidak mudah dibuka atau ditutup biasanya digunakan sebagai kemasan bahan- bahan non pangan.

Batas antara produk dengan bahan yang dikemas bertujuan untuk menghindarkan produk terkena penutup. Selain itu, batas antara produk dengan tutup kemasan bertujuan untuk memberikan rongga untuk pemuaian produk.  Kemudahan membuka tutup kemasan (easy of unpacking) digolongkan menjadi mudah, sedang dan sulit. Golongan mudah yaitu kemudahan membuka tutup kemasan seperti kemasan You C1000. Membuka tutup kemasan You C1000 yaitu hanya dengan memutar tutup kemasan hingga terlepas dari gelang pengikatnya. Golongan sedang yaitu tutup kemasan ABC Spesial Grade. Tutup kemasan dibuka dengan menggunakan alat pembuka, sehingga termasuk dalam golongan sedang. Sedangkan tutup kemasan yang termasuk dalam golongan sulit yaitu tutup minyak kayu putih. Tutup minyak kayu putih ada dua bagian, bagian luar cara membukanya mudah namun terdapat penutup bagian dalam yang berfungsi untuk menyumbat tutup botol agar produk di dalamnya tidak merembes keluar.

Kontur dari kemasan gelas yaitu mulus, bertekstur lubang-lubang dan bertekstur titik-titik kecil. Kontur permukaan kemasan adalah untuk membuat kemasan terlihat unik dan menarik perhatian komsumen. Penggunaan kemasan yaitu disposable. Disposable adalah kemasan yang dapat digunakan kembali untuk mengemas produk yang sama. Kemasan ditarik lagi oleh perusahaan yang memproduksi produk, seperti botol ABC Spesial Grade. Selain ditarik kembali oleh perusahaan, kemasan juga dapat digunakan untuk keperluan lainnya, yaitu sebagai tempat untuk menyimpan sesuatu yang digunakan dalam keperluan sehari-hari.

Seluruh permukaan gelas licin. Ini dikarenakan bahan dasar pembuetan gelas menggunakan senyawa- senya yang bersifat licin. Licin itu merupakan lapisan dari gelas yang berfungsi untuk melindungi bahan yang dikemasnya dari ganggun mikroorganisme dan sebagainya.

Bahan-bahan penutup dapat bersifat kaku atau flexibel. Sumbat dari kaleng atau besi dilapisidengan sejenis vernis untuk menghindari kontak langsung dengan bahan pangan.  Penutup sepertiini digunakan untuk menahan tekanan dalam minuman bergas, bir dan makanan yang dipanaskandalam wadah tertutup. Sumbat alumunium digunakan untuk air mineral, minuman tanpa gas, susu,yoghurt dan sebagainya. Sumbat dari plastik digunakan untuk minuman yang tidak bergas danmakanan dalam bentuk krim atau tepung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SIMPULAN DAN SARAN

 

 

Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahawa:

  1. Warna kemasan gelas di tentukan oleh jenis logam yang ditambahkan
  2. Bahan penutup kemasan disesuaikan dengan produk yang dikemas dalam kemasan tersebut
  3. Untuk produk pangan kemasan harus mudah dibuka dan ditutup kembali
  4. Untuk produk non pangan terutama minyak atsiri kemsan tidak mudah dibuka agar minyak tidak menguap
  5. Kontur permukaan gelas licin karena pelapisan gelas dan bahan- bahan kimia yang terkandung di dalammnya
  6. Kemasan gelas diolah dengan warna berbeda-beda sesuai produk apa yang ada dalam kemasan tersebut.
  7. Kemasan gelas berwarna bening digunakan untuk produk yang dapat bertahan bila terkena sinar matahari maupun sinar lampu sehingga produk di dalamnya tidak rusak. Sedangkan kemasan berwarna cokelat digunakan untuk mengemas produk yang tidak tahan terkena sinar. Sehingga kemasan yang digunakan mampu melindungi produk di dalamnya dari sinar yang mengenai botol.
  8. Semua kemasan gelas bersifat disposable, yaitu dapat digunakan kembali baik itu dari pihak perusahaannya atau dalam kehidupan sehari-hari. Pihak perusahaan menggunakan kemasan untuk mengemas produk yang sama sedangkan dalam kehidupan sehari-hari, kemasan gelas digunakan untuk tempat menyimpan sesuatu.

 

Saran

Kemudahan dalam menghabiskan suatu produk sangat diharapkan sehingga tidak ada produk yang tertinggal/tersisa di dalam kemasan. Selain itu kemudahan untuk membuka kemasan diharapkan menggunakan penutup yang lebih mudah dibuka namun mempunyai fungsi yang sama seperti penutup yang digunakan sekarang.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Fellows,P.J. 2000. Food Processing Technology.  Principles and Practice. 2nd Ed.  WoodheadPublishing Ltd., Cambridge, England.

 

Fardiaz dan D.Fardiaz (ed),Risalah Seminar Pengemasan dan Transportasi dalam Menunjang Pengembangan Industri,Distribusi dalam Negeri dan Ekspor  Pangan.   Jakarta.

 

Millati, Tanwirul, dkk. 2010. Penuntun Praktikum Teknologi Pengemasan dan Penyimpanan. Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru

           

Syarief, R., S.Santausa, St.Ismayana B. 1989.  Teknologi Pengemasan Pangan. LaboratoriumRekayasa Proses Pangan, PAU Pangan dan Gizi, IPB

 

PT.Iglas, 1990. Kemasan Gelas Ringan. Di dalam : S.Fardiaz dan D.Fardiaz (ed), Risalah Seminar Pengemasan dan Transportasi dalam Menunjang Pengembangan Industri, Distribusi dalam Negeri dan Ekspor Pangan. Jakarta.

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM KEMASAN KERTAS

PENDAHULUAN

 

Landasan Teori

Kemasan adalah suatu benda yang digunakan untuk wadah atau tempat yang dikemas dan dapat memberikan perlindungan sesuai dengan tujuannya. Adanya kemasan yang dapat membantu mencegah/mengurangi kerusakan, melindungi bahan yang ada di dalamnya dari pencemaran serta gangguan fisik seperti gesekan, benturan dan getaran. Dari segi promosi kemasan berfungsi sebagai perangsang atau daya tarik pembeli. Bahan kemasan yang umum untuk pengemasan produk hasil pertanian untuk tujuan pengangkutan atau distribusi adalah kayu, serat goni, plastik, kertas dan gelombang karton (Mimi  Nurminah. 2002).

Teknologi pengemasan berkembang pesat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Revolusiindustri yang telah mengubah tatanan hidup manusia ke arah kehidupanyang lebih modern, telah pula mengubah teknologi kemasan hinggamencakup aspek perlindungan pangan (mutu nutrisi, cita rasa, kontaminasidan penyebab kerusakan pangan) dan aspek pemasaran (mempertahankanmutu, memperbaiki tampilan, identifikasi produk, informasi komposisi dan promosi) (Dewi Anggriani, 2010)

 Didalam pengemasan bahan pangan terdapat dua macam wadah, yaitu wadah utama atau wadah yang langsung berhubungan dengan bahan pangan dan wadah kedua atau wadah yang tidak langsung berhubungan dengan bahan pangan. Wadah utama harus bersifat non toksik dan inert sehingga tidak terjadi reaksi kimia yang dapat menyebabkan perubahan warna, flavour dan perubahan lainnya. Selain itu, untuk wadah utama biasanya diperlukan syarat-syarat tertentu bergantung pada jenis makanannya, misalnya melindungi makanan dari kontaminasi, melindungi kandungan air dan lemaknya, mencegah masuknya bau dan gas, melindungi makanan dari sinar matahari, tahan  terhadap tekanan atau benturan dan transparan (Winarno, 1983).

Pengemasan komoditi hortikultura adalah suatu usaha menempatkan komoditi segar ke dalam suatu wadah yang memenuhi syarat sehingga mutunya tetap atau hanya mengalami sedikit penurunan pada saat diterima oleh konsumen akhir dengan nilai pasar yang tetap tinggi. Dengan pengemasan, komoditi dapat dilindungi dari kerusakan, benturan mekanis, fisik, kimia dan mikrobiologis selama pengangkutan, penyimpanan dan pemasaran (Sacharow dan Griffin, 1980).

Kemasan kertas yang berupa kemasan fleksibel adalah kertas kraft, kertas glasin dan kertas lilin. Wadah- wadah kertas kaku terdapat dalam bentuk karton, kotak dan box yang terbuat dari paper board , kertas laminasi, corrugated board dan berbagai jenis board dari kertas khusus (Millati, 2010).

Kemasan kertas bisa berfungsi sebagai kemasan primer yang kontak langsung dengan produk atau sebagai kemaasan sekunder, tersier bahkan kuartener yang pada pokonya adalah berfungsi melindungi produk dari kerusakan.

Densitas kertas diperoleh dengan membagi gramatur contoh bahan dengan tebal bahan. Nilai densitas kertas dipengaruhi oleh nilai gramatur dan tebal kertas. secara teknis rapat massa mempunyai hubungan erat dengan daya ikatan antar serat dan derajat fibrilisasi serat pulp yang nantinya berpengaruh pada saat pencetakan (opasitas cetak). Dalam prosesnya, peranan dan pengaruh filler Kaolin (clay) sangat berpengaruh pada sifat fisik lembaran kertas khususnya rapat massa dan gramatur kertas (karton). Kaolin berfungsi sebagai bahan pengisi antar serat, menambah berat kertas dan menghaluskan kertas (Casey, 1981).

Gramatur kertas mempengaruhi semua sifat-sifat kertas. Dalam hal ini yang terpenting adalah membedakan antara variasi yang disebabkan oleh berat atau gramatur dan variasi yang disebabkan oleh perbedaan yang memang ada pada kertas. Pada pengukuran gramatur kertas pengaruh yang mungkin disebabkan oleh kadar air sangat kecil karena kertas telah dikondisikan dengan kelembaban tertentu sehingga kandungan air dalam kertas homogen (Casey, 1981).

Adanya keragaman dalam gramatur mengindikasikan pada fluktuasi pemakaian bahan baku kertas per satuan luas. Semakin kecil gramatur maka penggunaan bahan baku semakin sedikit, konsumsi energi untuk pengolahan kertas lebih rendah, mengurangi polusi pabrik, biaya penanganan bahan dan produk rendah, efisiensi ruang penyimpanan, memperkecil gulungan atau potongan yang nantinya akan meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pembuatan kertas (karton) secara keseluruhan (Joedodibroto,1982).

Sifat daya serap air dipengaruhi dipengaruhi oleh sizer dan filler. Sizer akan akan mengubah sifat hidrofilik selulosa menjadi hidrofobik sehingga kemampuan penyerapan airnya akan berkurang. Untuk melindungi kepentingan konsumen juga untuk pengawasan proses dan pengendalian mutu bagi produsen kertas maka diperlukan batas maksimum berat air yang terserap selama 45 detik untuk kertas yang bergramatur 45 g/m2 standart pabrik sebesar 25 g/m2 dengan toleransi maksimum hingga 27 g/m2 (Rochlan, 1990).

Kertas merupakan struktur lembaran yang terbuat dari pulp dan bahan lain sebagai bahan tambahan dengan fungsi tertentu. Bagian terbesar kertas adalah pulp, sedangkan bahan lain sebagai bahan tambahan hanya sedikit karena digunakan hanya untuk mendapat sifat tertentu (Syarif, 1989).

 

Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengenali berbagai jenis kertas, jenis kemasan kertas bentuk karton dan corrugated box dan dapat mengetahui sifat-sifat kertas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TATA CARA PENELITIAN

 

Waktu dan tempat

            Praktikum ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 18 Februari 2013 pada pukul 16:00 – 18.00 Wita bertempat di Laboratorium Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian Fakultas pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru .

 

Bahan dan alat

Bahan yang digunakan adalah beberapa jenis kertas ( kertas minyak, kertas roti, kraft dan lain-lain ), karton lipat,folding box, dan corrugated box.

Alat yang digunakan adalah jangka sorong, penggaris dan timbangan

Prosedur kerja

 

Diidentifikasi jenis kertas

 

Ditentukan gramatur dan densitas kertas

 

Ditentukan daya serap kertas terhadap air

 

Dilakukan pembuatan pola karton lipat

 

Hasil Pengamatan

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Hasil

  1. 1.       Identifikasi Jenis Kertas

No.

Nama Produk

Jenis Kertas (Kemasan)

Fungsi Kemasan Berdasarkan Kontak Kemasan

1

Teh Celup Sosro

Karton Lipat

Kemasan Sekunder

2

Rokok LA Light

Karton Lipat

Kemasan Sekunder

3

Silverquen

Karton Lipat

Kemasan Sekunder

4

Lilin Lampu

Kertas Kraft

Kemasan Primer

5

Bungkus Nasi

Kertas Glasin

Kemasan Primer

 

2. Gramatur dan Densitas Kemasan

No

Nama Produk

Berat Sampel (gr)

Tebal Sampel (m)

Gramatur (g/m2)

Densitas (g/m3)

1

Obat Nyamuk Vape

Sampel 1

Sampel 2

 

0,6301

0,6385

 

0,75

0,75

 

252,049

255,49

 

336,053

340,53

2

Teh Kotak

Sampel 1

Sampel 2

 

0,7935

0,7832

 

1

1

 

317,49

313,289

 

317,4

313,28

3

Cabana W.R (Parfum)

Sampel 1

Sampel 2

 

0,5965

0,5941

 

0,5

0,5

 

238,69

237,649

 

477,2

475,28

4

Kardus Minuman Gelas

Sampel 1

Sampel 2

 

2,2106

2,1540

 

3,5

3,5

 

884,249

861,69

 

252,64

246,171

Contoh Perhitungan :

  1. Gramatur (g/m2)   =  bobot contoh (g)     x         10.000 cm2

                                          100 cm2                             1 m2

                              =        0,6301              x         10.000

                                                               100                                

=         252,04  g/m2

 

  1. Densitas (gr/m3)    =         Gramatur

Tebal bahan

=         252,04

                                                             0,75

                                                =      336,053 g/m3

 

3. Hasil Perhitungan Daya Serap Kemasan

No

Nama Produk

Berat Awal

Berat Akhir

Jumlah Air yang diserap

I

II

I

II

I

II

1

Kotak Nasi

0,5987

0,6032

1,2451

1,2658

0,6464

0,6626

2

Kertas Nasi

0,1637

0,1622

0,3383

0,3067

0,1746

0,1445

3

Sariwangi

0,4861

0,4855

1,2217

1,2481

0,7356

0,7626

4

Teh Botol Sosro

0,6522

0,6329

0,6915

0,6666

0,0393

0,0337

 

Contoh Perhitungan :

Perhitungan Kotak Nasi :

Jumlah air yang diserap            = Berat Akhir – Berat Awal               

                                    = 1,2451 g – 0,5987 g

                                    = 0,6464 g

Perhitungan Daya Serap :

Diket :                         Berat Awal                  = 0,5987 g

Berat Akhir                  = 1,2451 g

Direndam Selama        = 5 menit

Dit : Jumlah air yang diserap persatuan luas = ?

Jawab :

Bobot        = 0,6464 g

Luas           = (5)2 x 3,14

                  = 25 x 3,14

                  =  78.5 cm2  = 0.00785 m2

Jumlah air yang diserap persatuan luas =          0,6464 g

                                                                                  0.00785 m2x 10 menit

                                                                              =  823,43949  g/m2.menit

4. Pembuatan Pola Karton Lipat

No.

Nama Produk

(Kemasan Karton)

Gambar Pola Lipat

1.

Gatsby

 

2.

Cookie Crisp

 

3.

Lipton

 

4.

Pepsodent

 

 

Pembahasan

            Pada praktikum ini dilakukan beberapa tahapan yaitu: identifikasi jenis kertas, penentuan gramatur dan densitas kertas, penentuan daya serap kertas terhadap air, dan pembentukan pola karton lipat. Dalam tahap identifikasi jenis kertas, kertas yang jenis kekuatannya tinggi jadi kemasan sekunder seperti karton. Sedangkan pada penggambaran pola kertas/kemasan dapat diketehui bahwa cara atau pola pengemasan suatu produk dengan produk lain berbeda-beda baik dari bentuk, ukuran, jenis kertas yang digunakan serta besar atau kecilnya ukuran yang digunakan tergantung ukuran produk yang akan dkemas. dilain hal juga dilakukan uji daya serap kertas terhadap air, dengan uji ini maka kita dapat mengetahui jenis kertas apa yang akan kita gunakan untuk mengemas suatu bahan agar bahan yang kita kemas dapat terjaga baik dari segi mutu atau kualitas bahan tersebut. Misalkan saja jika kita ingin mengemas suatu bahan atau produk yang kadar airnya tinggi, maka kertas yang harus digunakan untuk mengemas adalah kertas yang tahan air,misalkan kemasan tersebut dikombinasikan dengan aluminium foil. Dalam uji panyerapan air ini diperoleh hasil bahwa kemasan kardus adalah kemasan yang daya serap airnya tinggi. Namun pada saat uji perendaman selama 10 menit dari semua bahan yang digunakan pada saat praktikum tidak ada yang hancur. Ini menandakan bahwa dari semua sampel yang digunakan pada saat praktikum memiliki ketahanan atau kualitas kertas yang cukup baik. Ada bermacam-macam kertas yang digunakan untuk mengemas suatu bahan atau produk dengan berbagai sebutan, misalnya: art paper, alumunium foil, kertas cellophane, karton, duplex, kertas Majalah, tas kertas, kertas serbet, kertas pastel, kertas merang, kertas tissue, wallpapers, watercolor paper, kertas minyak, kertas metalik, kertas daur ulang.

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kertas serta sifat-sifatnya. Digunakan lima sampel kertas pada praktikum ini, antara lain kemasan Teh celup sosro, Rokok LA Lights, Silverqueen, Lilin Lampu dan bungkus nasi. Berdasarkan hasil identifikasi dari 5 sampel tersebut dapat digolongkan menjadi 3 jenis kertas yaitu kertas jenis karton lipat, kertas kraft dan kertas glasin.

Kemasan yang tergolong jenis Karton Lipat adalah kemasan teh celup, rokok, dan Silverqueen. Ketiga kemasan tersebut termasuk jenis Karton Lipat karena ciri khasnya tebal dan kaku. Kemasan karton biasanya termasuk kemasan sekunder bila dilihat dari sifat kontak dengan bahan yang dikemas. Kemasan sekunder yaitu kemasan yang digunakan untuk membungkus produk yang sudah terlebih duulu dikemas dengan kemasan primer.

Kemasan yang tergolong jenis kertas Kraft adalah kemasan lilin lampu. Kertas kraft memiliki ciri-ciri warna merah, agak transparan, tidak mengkilap, permukaan berserat, mudah sobek, tipis dan ada dua sisi yaitu kasar dan halus. Sedangkan kemasan yang tergolong jenis kertas Glasin adalah kemasan pembungkus nasi. Kemasan tersebut termasuk jenis kertas Glasin karena kertas ini mempunyai permukaan seperti gelas dan transparan, mempunyai daya tahan yang tinggi terhadap lemak, oli dan minyak, tidak tahan terhadap air walaupun permukaan dilapisi dengan bahan tahan air seperti lak dan lilin. Kertas glasin sangat cocok untuk kemasan atau pembungkus nasi karena apabila nasi tersebut bercampur dengan lauk dan pauk yang mengandung minyak dan lemak kemasan tersebut tidak akan rusak.

Pada praktikum yang telah dilaksanakan gramatur dan densitas kertas dilakukan perhitungan dimana kemasan yang dilakukan pengamatan adalah Obat Nyamuk Vape, Teh Kotak, Cabana W.R (Parfum) dan Kardus Minuman Gelas. Hasil gramatur yang didapatkan menunjukkan bahwa nilai gramatur yang paling tinggi adalah pada kemasan kardus minuman gelas sedangkan gramatur yang paling rendah pada kemasan kertas Cabana W.R (Parfum). Gramatur merupakan nilai yang menunjukkan bobot bahan persatuan luas bahan, dimana semakin tinggi nilai berat sampel kemasan maka semakin tinggi pula nilai gramaturnya. Untuk hasil densitas kemasan yang dilakukan didapat bahwa Kardus Minuman Gelas memiliki nilai densitas yang paling rendah sedangkan densitas yang paling tinggi terdapat pada kemasan Cabana W.R (Parfum) karena sifat dari jenis kertas yang digunakan serta ketebalan kemasan mempengaruhi nilai densitas suatu kemasan tersebut.

Selanjutnya adalah penetuan daya serap kertas terhadap air. Daya serap adalah kemampuan suatu bahan untuk menampung air. Berdasarkan hasil penngamatan bahan yang mudah menyerap air adalah kertas dari jenis karton, sedangkan dari jenis glasin relative tidak menyerap air. Hal ini terjadi karena Adanya perbedaan metode sizing (sizer). Sizing umumnya digunakan untuk memberikan ketahanan resistensi air. Sizer adalah bahan penolong yang ditambhkan sebelum atau sesudah pembentukan lembaran kertas yang ditujukan terutama untuk meningkatkan ketahanan kertas terhadap cairan. Menurut Casey (1981) berdasarkan pemberian sizer dapat dibedakan dua macam, yaitu internal sizer dan surface sizer. Internal sizer merupakan proses untuk memberikan ketahanan penetrasi cairan pada kertas dengan memberikan bahan tambahan internal yang basah. Surface sizer umumnya merupakan penggunaan bahan berselaput tipis seperti tepung, getah dan polimer sintetis.

Untuk pembuatan pola karton lipat dilakukan dengan cara membuka kemasan karton dengan hati-hati. Selanjutnya pola dari karton tersebut digambar dan diberi keterangan ukuran. Penggambaran pola ini bertujuan untuk mengetahui beberapa pola dalam membuat kemasan karton untuk mengemas suatu produk. Kemasan karton biasanya digunakan sebagai kemasan sekunder suatu produk.

            Secara visual jenis kertas dapat dibedakan menurut sifat permukaan atau teksturnya, yaitu: kertas yang permukaannya halus (kertas gambar, kertas marmer, karton manila, kertas HVS, kertas tissue dan lain-lain), kertas yang permukaannya kasar (kertas roti, kertas daur ulang, kertas merang, kertas krep, dan lain-lain), kertas yang permukaannya licin (kertas film, art paper, kertas minyak, dan lain-lain),  kertas yang bergelombang (corrugated paper) dan sebagainya. Potensi kertas sungguh tak terbatas dan pada hakekatnya sifat kertas sungguh unik karena dapat diubah tampilan fisiknya dengan beragam teknik sesuai jenis kertasnya. Kertas dapat diubah tampilannya dengan berbagai cara : diremas, dilinting, dipotong (lurus/ panjang), dilem, interlock/berkaitan, saling menutup, dibuat bubur kertas/ paper mache, digulung, digores/ditoreh, dilubangi, dilipat, dipotong/disobek-sobek, dijalin, dijahit dan sebagainya. Beragam jenis kertas dapat digunakan untuk fungsi yang berbeda baik sebagai bahan dasar pembuatan produk fungsional seperti; bungkus kado, buku tulis, tas kertas, poster, atau sebagai bahan-bahan dasar pembuatan produk kriya, bahkan media artistik dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan karya seni atau material patung.

Seseorang atau sebuah industri membuat sebuah kemasan tentunya mempunyai tujuan atau fungsi tersendiri, antara lain fungsi kemasan adalah:

  1. Menjaga produk agar tetap bersih (terlindung dari kotoran dan kontaminasi).
  2. Melindungi produk dari kerusakan fisik, kimia, penyinaran matahari, biologi dan sebagainya.
  3. Untuk efektifitas dan efisiensi dalam penanganan produk.
  4. Memudahkan dalam penanganan, pengangkutan dan distribusi.
  5. Mempunyai ukuran dan bentuk yang standar, mudah dibuang, dibentuk atau dicetak.
  6. Menamakan identifikasi, informasi dan penampilan yang jelas agar membantu dalam promosi dan penjualan.

Dalam membuat kemasan suatu produk tentunya tidak sembarangan, namun harus memenuhi beberapa syarat, misalnya dilihat dari segi penampilan diantaranya adalah:

  1. Penampilan terhadap produknya
  2. Sifat perlindungan
  3. Fungsi penggunaannya
  4. Harga dan biaya
  5. Penanganan limbahnya

Selain itu sebuah kemasan atau penampilan mencirikan jati diri atau citra produk, informasi tentang cara penggunaan produk, informasi tentang komposisi isi produk, merek dan identitas produsen, serta promosi produk.

 

 


SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Kemasan kertas terdiri dari beberapa jenis antara lain kemasan karton, kertas kraft dan kemasan glasin.
  2. Kemasan karton memiliki daya serap air yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan kertas glasin.
  3. Kemasan karton biasanya digunakan sebagai kemasan sekunder.
  4. Kemasan kertas glasin adalah kemasan yang sulit menyerap air
  5. Ada berbagai macam jenis penggunaan kertas sebagai kemasan  primer, sekunder, dimana kemasan sekunder digunakan kertas yang mempunyai tingkat kekakuan yang lebih tinggi.
  6. Sifat- sifat kertas dan yang cepat menyerap air, ada yang mudah sobek serta ada yang tahan dengan air.
  7. Pola kemasan yang digunakan menyesuaikan bentuk serta jenis bahan yang akan dikemas.

Saran

Dengan adanya praktikum seperti ini , mahasiswa dapat mengetahui bagaimana jenis-jenis kertas dan bagaimana fungsi-fungsinya, sehingga mahasiswa dapat disarankan untuk dapat lebih cerdas dalam memilih kemasan jenis kertas sesuai kelebihan dan fungsinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Casey, J.P. 1981. Pulp and Paper, vol.II Second Ed. International Publisher

       Inc. NewYork

 

Dewi Anggriani, dkk. 2010. Identifikasi Kemasan Pangan. Supervisor Jaminan Mutu Pangandirektorat Program Diplomainstitut Pertanian Bogor 2010

Joedodibroto, H. 1982. Plan Plantation Residues as an Alternative Sourece of       Cellulosaic

 

Millati, Tanwirul, dkk. 2010. Penuntun Praktikum Teknologi Pengemasan dan Penyimpanan. Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru

 

Nurminah,mimi.2002.Sifat Kemasan Plastik dan Kertas,Serta Pengaruh Terhadap Makanan.Fakultas Pertanian.Universitas Sumatra Utara

Rochlan,F. 1990. Kemasan Karton dalam Industri pangan. Di dalam : S.Fardiaz dan D.Fardiaz (ed), Risalah Seminar Pengemasan dan Transportasi dalam Menunjang Pengembangan Industri, Distribusi dalam Negeri dan Ekspor Pangan. Jakarta.

Sacharow. S. and R.C. Griffin. 1980. Principles  of  Food  Packaging.  The  AVI Publishing. Co. Inc. Westport. Connecticut.

Suyitno. 1990. Bahan-bahan Pengemas. PAU. UGM. Yogyakarta.

Syarief, R. S. (1989). Teknologi Pengemasan Pangan. Bogor: Laboratorium Rekayasa Proses, Pangan dan Gizi IPB.

 

Winarno, F.G. 1983. Gizi Pangan, Teknologi dan Konsumsi. Penerbit Gramedia.Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN

KEMASAN KERTAS

 

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

HESTI AGUSTINA

E1F111212

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI  TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARBARU

2013

 

Hai minna Konbawa :)

Disini aku akan menulis tentang keseharianku yang selama ini telah terlewat tapi belum pernah kusimpan dengan baik sehingga sering terlupakan. :D
Tapi sebenarnya kehidupan ku biasa-biasa aja, jadi gak ada yang istimewa juga untuk diceritain :p
Tapi pada intinya aku bahagia dengan kehidupan ku sekarang, apalagi aku sering kumpul ditengah-tengah orang baik dan lucu-lucu seperti temanku. Aku sangat bersyukur kenal dengan mereka, karena mereka mampu hidupin suasana hatiku yang semula cuma hitam-putih jadi berwarna atau bisa disebut full color #Lebaayyy #Plak Biarin :p
Thanks to my friend, I love u all <3