LAPORAN PRAKTIKUM KEMASAN PLASTIK

PENDAHULUAN

 

 

Landasan Teori

Pengertian umum dari kemasan adalah suatu benda yang digunakan untuk wadah atau tempat dan dapat memberikan perlindungan sesuai dengan tujuannya. Adanya kemasan dapat membantu mencegah/mengurangi kerusakkan, melindungi bahan yang ada di dalamnya dari pencemaran serta gangguan fisik seperti gesekan, benturan atau getaran. Dari segi promosi kemasan dapat berfungsi sebagai perangsang atau daya tarik pembeli (Esti, 2007).

Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai dari botol minum, TV, kulkas, pipa pralon, plastik laminating, gigi palsu, compact disk (CD), kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-alat militer hingga pestisida. Oleh karena itu kita bisa hampir dipastikan pernah menggunakan dan memiliki barang-barang yang mengandung Bisphenol-A. Salah satu barang yang memakai plastik dan mengandung Bisphenol A adalah industri makanan dan minuman sebagai tempat penyimpan makanan, plastik penutup makanan, botol air mineral, dan botol bayi walaupun sekarang sudah ada botol bayi dan penyimpan makanan yang tidak mengandung Bisphenol A sehingga aman untuk dipakai makan. Satu tes membuktikan 95% orang pernah memakai barang mengandung Bisphenol-A (Rachmawan, 2001).

Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan tetapi plastik juga beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga kita. Oleh karena itu kita harus mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai. Jenis-jenis plastik yaitu sebagai berikut :

1. PETE atau PET (polyethylene terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Botol-botol dengan bahan 1 dan 2 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.

2. HDPE (high density polyethylene) biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu. Sama seperti 1 PET, 2 juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian.

3. V atau PVC (polyvinyl chloride) adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.

4. LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan kode 4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan 4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.

5. PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.

6. PS (polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.

7. Other (biasanya polycarbonate) bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari bahan plastik Polycarbonate (Millati, 2010).

Dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas. Dianjurkan tidak digunakan untuk tempat makanan ataupun minuman. Ironisnya botol susu sangat mungkin mengalami proses pemanasan, entah itu untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave, atau dituangi air mendidih atau air panas (Syarif, 1989).

            Plastik mempunyai berbagai sifat yang menguntungkan, diantaranya:

a. Umumnya kuat namun ringan.

b. Secara kimia stabil (tidak bereaksi dengan udara, air, asam, alkali dan berbagai zat kimia lain).

c. Merupakan isolator listrik yang baik.

d. Mudah dibentuk, khusunya dipanaskan.

e. Biasanya transparan dan jernih.

f. Dapat diwarnai.

g. Fleksibel/plastis

h. Dapat dijahit.

i. Harganya relatif murah (Syarif, 1989).

Saat ini banyak sekali ditemukan kemasan dengan berbagai bahan, tetapi pada umumnya kemasan yang digunakan untuk benih tanaman pangan khususnya kedelai berupa plastik polyetheline dengan ketebalan bervariasi antara 0,05 – 0,08 mm. Bahan ini biasanya berciri lentur (elastis), buram (tidak bening) dan tidak kaku sehingga diharapkan tidak mudah pecah saat benih dalam kemasan tersebut ditransportasikan serta dapat mempertahankan mutu benih yang ada didalamnya. Lombok Barat yang merupakan daerah sentra produksi kedelai di Nusa Tenggara Barat, menggunakan jenis kemasan yang lebih kreatif lagi yaitu plastik polyetheline berlapis kertas semen didalamnya sehingga lebih menjamin keamanan benih baik dari segi mutu maupun transportasi (Herni, 2006).

 

Tujuan

Tujuan dari praktikum ini yaitu mahasiswa dapat mengenal berbagai jenis kemaan plastik, mengetahui sifat-sifat plastik dan bahan resin pembuat kemasan.

 

TATA CARA PENELITIAN

 

 

Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 3 Maret 2010 pukul 14.25-16.05 WITA. Bertempat di laboraturium Pengolahan Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

 

Bahan dan Alat

Bahan yag digunakaan adalah Plastik polietilen, PVC, PET, PS, kemasan botol, air mendidih, korek api, larutan asam, larutan basa, pelarut polar dan non polar.

 

Prosedur Kerja

  1. Uji Bakar Plastik

 

1 lembar plastik

Dilakukan pengamatan terhadap kemudahan terbakar, kecepatan rambat nyala api,

warna nyala api, pembentukan asap, warna asap dan bau yang timbul.

Hasil

Digulung dan dibakar pada salah satu ujungnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Identifikasi kemasan botol

 

Produk

Diidentifikasi jenis kemasan , bahan yang dikemas, bahan pembuat kemasan,

dan simbol pada kemasan.

Hasil

 

 

 

 

 

 

 

Air

Pengujian Hot filled

 

Dipanaskan sampai mendidih

Diamati apakah berubah bentuk atau tidak

Kemudian diisikan air mendidih ke dalam kemasan yang diujicobakan

Hasil

A

A

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Uji ketahanan asam basa dan pelarut

 

Diamati perubahan yang terjadi

Diujicobakan dengan larutan asam, basa, pelarut polar dan non polar dengan direndam selama 24 jam

Dipotong beberapa jenis yang berbeda

Hasil

Plastik

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

Hasil

 

Tabel 1. Uji Bakar Plastik

No.

Nama Produk

Kemudahan Terbakar

Kecepatan Rambat Nyala api

Warna Nyala Api

1.

Gelas Aqua

Mudah

Cepat

Jingga

2.

Nu Milk Tea

Sulit

Cepat

Jingga

3.

Frestea

Mudah

Lambat

Jingga

4.

Prof. Botol

Mudah

Cepat

Biru Jingga

5.

Head & Shoulders

Mudah

Lambat

Biru Jingga

6.

Indomie Soto Banjar

Mudah

Cepat

Biru Jingga

7.

Cannon Ball

Mudah

Cepat

Biru Jingga

8.

Royco

Mudah

Lambat

Jingga

 

Pembentukan Asap

Warna Asap

Bau

Ada

Putih

Menyengat

Ada

Hitam

Menyengat

Ada

Hitam

Menyengat

Ada

Hitam

Menyengat

Ada

Putih

Menyengat

Ada

Putih

Menyengat

Ada

Putih

Menyengat

Ada

Putih

Menyengat

 

 

Tabel 2. Identifikasi Kemasan Botol

 

No.

Nama Produk

Bahan yang Dikemas

Bahan Resin

Simbol

1.

Aquarius

Pangan Cairan

 

2.

Mizone

Pangan Cairan

 

3.

Indomilk

Pangan Cairan

 

4.

Prof

Pangan Cairan

 

5.

Fruitamin

Pangan Cairan

 

6.

Indomie

Pangan Padatan

 

7.

Enaak Plain

Pangan Cairan

 

8.

Sunlight

Non Pangan Cairan

 

 

Tabel 3. Pengujuan Hot Filled

 

No.

Nama Produk

Perubahan yang Terjadi

1.

Mizone

Mengkerut (25.5 detik)

 

2.

Coca Cola

Mengkerut (31.7 detik)

 

3.

Pantene

Tidak mengkerut (59.6 detik)

 

4.

Ades

Mengkerut (1 menit 7.6 detik)

 

Tabel 4. Uji Ketahanan Asam Basa dan Pelarut

No.

Nama Produk

Bahan Resin

Reaksi Pada

Larutan Asam

(H2SO42M)

Larutan Basa

(NaOH 2M)

Larutan Polar

(Dietil Eter)

Larutan Nonpolar

(Aquades)

1.

Sunlight

 

Warna tidak luntur, pada bagian sisi ujung plastik mengkerut, tidak lengket pada wadah perendaman dan permukaan kesat

Keadaan plastik tetap, tidak mengkerut, warna tidak berubah, tidak lengket pada wadah perendaman dan permukaan kesat

Keadaan plastik tetap, tidak mengkerut, warna pada kemasan tetap, tidak mengkerut, tidak lengket pada wadah perendaman dan permukaan kesat

Warna pada kemasan tetap, plastik terbuka menjadi dua bagian, tidak mengkerut, tidak lengket dan permukaan sedikit licin

2.

Ale-ale

 

Kesat, warna tidak berubah, keadaan plastik utuh, tidak mengkerut, tidak lengket pada wadah perendaman

Apabila permukaan plastik digosokkan dengan pengungkit warnanya akan luntur, licin, keadaan plastik utuh, tidak mengkerut dan tidak lengket pada wadah perendaman

Warna tetap, keadaan plastik utuh, tidak mengkerut, tidak lengket pada wadah perendaman dan kesat

Warna tidak berubah, keadaan plastik utuh, tidak mengkerut, dapat diambil, tidak lengket pada wadah perendaman dan licin

3.

Citra

 

Plastik kemasan luar terkelupas namun tidak semua nya, sedikit mengkerut, kesat dan tidak lengket pada wadah perendaman

Apabila permukaan plastik digosokkan dengan pengungkit warnanya akan luntur, licin, tidak mengkerut, dan tidak lengket pada permukaan wadah perendaman

Sedikit mengkerut, kesat, plastik kemasan luar terkelupas namun tidak semuanya, warna tetap dan tidak lengket pada wadh perendaman

Plastik keamsan luar terkelupas namun tidak semuanya, sedikit mengkerut, licin sedikit kesat, warna tetap, tidak lengket pada wadah perendaman

4.

Indomilk Label

 

Sedikt mengkerut, kesat, warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman

Permukaan licin, tidak mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman

Kesat, sedikit mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman

Mengkerut, warna sedikit berubah, licin dan tidak lengket pada wadah perendaman

5.

Indomilk Kemasan

 

Kesat, tidak mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman

Licin, sampel menggulung, warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman

Kesat, tidak mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman

Licin, tidak mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman

6.

Mie Keriting

 

Mengkerut, kesat, tidak lengket dengan wadah dan warna tetap

Lengket dengan wadah, warna luntur, mengkerut dan  licin

Mengkerut, kesat, warna tidak luntur, dan tidak lengket dengan wadah

Lengket dengan wadah, warna luntur, tidak mengkerut dan  licin

7.

Lifebuoy

 

Mengkerut pada bagian ujung kemasan,  licin, warna tetap dan tidak mengkerut

Licin, tidak lengket pada wadah, warna tetap dan tidak mengkerut

Kesat, tidak lengket dengan wadah, tidak mengkerut dan warna tetap

Licin, lengket dengan wadah, tidak mengkerut dan warna tetap

8.

Nestle

 

Mengkerut pada bagian ujung, warna tetap, kesat dan tidak lengket pada kemasan

Licin, tidak mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada kemasan

Kesat, tidak mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada kemasan

Licin, tidak mengkerut, warna tetap dan tidak lengket pada wadah

 

 

Pembahasan

Plastik merupakan senyawa polimer tinggi yang dicetak dalam lembaran-lembaran dan mempunyai ketebalan yang berbeda-beda. Plastik dibuat dari resin baik alami atau sintetik yang tersusun dari banyak monomer, yaitu rantai paling pendek, sehingga terbentuk suatu polimer. Plastik dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis berdasarkan struktur kimianya, yaitu liniar bila monomer membentuk rantai polimer yang lurus, dan jaringan tiga dimensi bila monomer berbentuk 3dimensi akibat polimerisasi berantai.

Berdasarkan struktur kimianya, maka polimer dari plasik dibedakan atas :

1.  Linier, bila monomer membentuk rantai polimer yang lurus, dan akan terbentuk plastik thermoplastik yang mempunyai sifat meleleh pada suhu tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu dan sifatnya yang dapat balik (reversible) yaitu dapat kembali mengeras bila didinginkan.

2.  Jaringan tiga dimensi, bila monomer berbentuk  tiga dimensi akibat polimerisasi berantai, akan terbentuk plastik termoseting yang bersifat tidak dapat mengikuti perubahan suhu dan irreversibel.  Bila plastik termoseting yang mengeras dipanaskan maka bahan tidak dapat lunak kembali, tetapi akan membentuk arang dan terurai.  Jenis plastik ini sering digunakan sebagai tutup ketel seperti jenis-jenis melamin (Julianti dan Mimi, 2006).

            Adapun beberapa jenis kemasan plastik yang sering digunakan antara lain :

  1. Polyethylen

Polietilen  merupakan  film  yang  lunak,  transparan  dan  fleksibel,  mempunyai

kekuatan  benturan  serta  kekuatan  sobek  yang  baik.  Dengan  pemanasan  akan menjadi lunak dan  mencair pada suhu 110OC. Berdasarkan sifat permeabilitasnya yang  rendah  serta  sifat-sifat  mekaniknya  yang  baik,  polietilen  mempunyai ketebalan  0.001  sampai  0.01  inchi,  yang  banyak  digunakan  sebagai  pengemas makanan,  karena  sifatnya  yang  thermoplastik,  polietilen  mudah  dibuat  kantung dengan derajat kerapatan yang baik. Konversi etilen menjadi polietilen (PE) secara komersial semula dilakukan dengan tekanan tinggi, namun  ditemukan  cara  tanpa  tekanan  tinggi. 

Polietilen  dibuat  dengan  proses  polimerisasi  adisi  dari  gas  etilen  yang diperoleh  dari  hasil  samping  dari  industri  minyak  dan  batubara.  Proses polimerisasi  yang  dilakukan  ada  dua  macam,  yakni  pertama  dengan polimerisasi yang  dijalankan  dalam  bejana  bertekanan  tinggi  (1000-3000  atm)  menghasilkan molekul makro dengan banyak percabangan yakni campuran dari rantai lurus dan bercabang. Cara kedua, polimerisasi dalam bejana bertekanan rendah (10-40 atm) menghasilkan molekul makro berantai lurus dan tersusun paralel.

  1. Low Density Polyethylen (LDPE)

Sifat mekanis jenis plastik LDPE adalah kuat, agak tembus cahaya, fleksibel

dan permukaan agak berlemak. Pada suhu di bawah 60OC sangat resisten terhadap senyawa kimia, daya proteksi terhadap uap air tergolong baik, akan tetapi kurang baik  bagi  gas-gas  yang  lain  seperti  oksigen,  sedangkan  jenis  plastik  HDPE mempunyai sifat lebih kaku, lebih keras, kurang tembus cahaya dan kurang terasa berlemak.

  1. High Density Polyethylen (HDPE).

Pada  polietilen  jenis  low  density  terdapat  sedikit  cabang  pada  rantai  antara

molekulnya  yang  menyebabkan  plastik  ini  memiliki  densitas  yang  rendah,

sedangkan  high  density  mempunyai  jumlah  rantai  cabang  yang  lebih  sedikit dibanding jenis low density. Dengan demikian, high density  memiliki sifat bahan yang  lebih  kuat,  keras,  buram  dan  lebih  tahan  terhadap  suhu  tinggi.  Ikatan hidrogen  antar  molekul  juga  berperan  dalam  menentukan  titik  leleh  plastik.

  1. Polypropilena

Polipropilen  sangat  mirip  dengan  polietilen  dan  sifat-sifat  penggunaannya juga  serupa. Polipropilen  lebih  kuat  dan  ringan  dengan  daya tembus  uap  yang  rendah,  ketahanan  yang  baik  terhadap  lemak,  stabil  terhadap suhu  tinggi  dan  cukup  mengkilap. polypropilen  diperoleh  dengan  pemecahan  secara  thermal  naphtha  (distalasi minyak  kasar)  etilen,  propylene  dan  homologues  yang  lebih  tinggi  dipisahkan dengan  distilasi  pada  temperatur  rendah. 

  1. Polivinil Klorida (PVC)

Polivinil  Klorida  dibuat  dari  monomer  yang  mngandung  gugus  vinil.  PVC

mempunyai  sifat  kaku,  keras,  namun  jernih  dan  lengkap,  sangat  sukar  ditembus air  dan  permeabilitas  gasnya  rendah.  Pemberian  plasticizers  (biasanya  ester aromatik)  dapat  melunakkan  film  yang  membuatnya  lebih  fleksibel tetapi regang putusnya rendah, tergantung jumlah plasticizers yang ditambahkan.

  1. Vinilidin Khlorida (VC)

Mengandung  dua  atom  klorin,  merupakan  bahan  padat  yang  keras,  bersifat

tidak  larut  dalam  sebagian  besar  pelarut  dan  daya  serap  airnya  sangat  rendah. Dapat  menghasilkan  film  yang  kuat,  jernih  dengan  permeabilitas  terhadap  gas cukup rendah.

  1. Politetrafluoroetilen (PTFE)

Bersifat sangat inert terhadap reaksi-reaksi kimia. Polimer ini bersifat halus,

berlemak  dan  umumnya  berwarna  abu-abu.  Koefisien  gesekannya  sangat  rendah sehingga menghasilkan permukaan yang tidak mudah lengket serta bertahan pada daerah suhu kerja yang luas.

  1. Polistiren (PS)

Bersifat  sangat  amorphous  dan  tembus  cahaya,  mempunyai  indeks  refraksi

tinggi,  sukar  ditembus  oleh  gas  kecuali  uap  air. Dapat  larut  dalam  alcohol  rantai panjang, kitin, ester hidrokarbon yang mengikat khlorin. Polimer ini mudah rapuh, sehingga banyak dikopolimerisasikan dengan batu diena atau akrilonitril.

Penggunaan bahan plastik sebagai pengemas dilakukan dengan tujuan salah satunya yaitu praktis dan ringan. Plastik digolongkan menjadi 7 jenis yaitu PETE, HDPE, PVC, LDPE, PP, PS dan OTHER. Pada praktikum ini, bahan yang digunakan yaitu PET , PP, V, HDPE LDPE, PP, dan OTHER. 

Uji bakar plastik merupakan suatu bentuk pengujian yang dapat digunakanuntuk mengidentifikasi jenis polimer dari suatu plastik dengan pembakaran plastik  pada nyala api. Uji bakar plastik terdiri dari pengujian kemudahan terbakar, kecepatan rambat nyala api, warna api, pembentukan asap, warna asap dan bau saat terbakar. Kemudahan terbakar dari pengemas tergantung dari ketebalan bahan yang digunakan untuk mengemas suatu bahan. Seperti plastik Nu Milk Tea yang merupakan plastik yang paling tebal diantara bahan yang digunakan dalam praktikum, plastik Nu Milk Tea memiliki kesulitan tertinggi untuk dibakar dibandingkan tujuh plastik lainnya.

Kecepatan rambat nyala api dari bahan pengemas tergantung dari kerapatan unsur penyusun plastik tersebut. Plastik Gelas Aqua, Nu Milk Tea, Prof Botol, Indomie Soto Banjar dan Cannon Ball merupakan kemasan dengan kerapatan penyusun rendah sehingga sangat mudah sobek dan kecepatan rambat nyala api tinggi. Kemasan yang kecepatan rambatnya sedang atau lambat memiliki kerapatan yang baik sehingga tidak mudah pecah atau sobek.

Warna nyala api dari bahan praktikum yaitu warna jingga dan biru jingga. Pembentukan asap terjadi pada semua kemasan, hal ini berpengaruh terhadap ketebalan serta jumlah komposisi plastik itu sendiri. Hal ini juga berpengaruh terhadap warna asap dan bau.

Identiikasi kemasan plastik yaitu air Aquarius, Mizone, Prof dengan kemasan botol menggunakan bahan resin PET, hanya dapat digunakan untuk satu kali pakai dan dapat didaur ulang. Kemasan dengan resin ini tidak dapat digunakan untuk mengemas bahan dengan suhu panas karena komponen penyusun plastik akan bereaksi dengan air panas dan larut ke dalam tubuh konsumen.

Bahan resin yang digunakan untuk kemasan plastik Fruitamin dan Indomie adalah PP dengan logo daur ulang 5. Kemasan ini dapat digunakan sebagai tempat mengemas bahan yang bersuhu panas karena komponen penyusunnya tidak bereaksi dengan air panas sehingga aman digunakan untuk mengemas bahan panas. Bahan resin yang digunakan untuk kemasan Indomilk adalah HDPE dengan logo daur ulang 2. Kemasan ini digunakan pada botol susu, tupperware, galon air minum, kursi lipat. Namun, disarankan untuk tidak dipakai berulang kali. Kandungan senyawa antimoni trioksidanya yang tidak baik untuk kesehatanakan meningkat seiring waktu. Bahan resin yang digunakan pada kemasan Sunlight  adalah OTHER dengan logo daur ulang 7. Kemasan ini bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari bahan plastik Polycarbonate.

Pengujian hot filled pada Pantene tidak terjadi perubahan apapun pada bahan terebut karena bahan tersebut tahan terhadap panas. Pada plastik Mizone, Coca Cola, dan Ades terjadi pengkerutan, hal yang sangat mempengaruhi hal ini yaitu kandungan dari bahan tersebut.

Uji ketahanan terhadap asam, basa, pelarut polar dan non polar pada kemasan. Kemasan yang digunakan dalam pengujian ini adalah sunlight, Ale-ale, Citra, Indomilk kemasan, Mie Keriting, Lifebuoy, dan Nestle. Larutan polar yang digunakan adalah dietil eter dan untuk non polarnya digunakan aquades. Asam yang digunakan ialah H2SO4 2M dan Basa yang digunakan adalah NaOH 2M. Kemasan plastik yang telah dipotong kecil masing-masing dilakukan perendaman pada larutan diatas cawan petri selama 24 jam. Setelah itu diamati dan dicatat perubahan apa yang terjadi pada kemasan plastik tersebut.

Pada uji tahan asam yang dilakukan dengan penambahan H2SO4 pada kemasan plastic. Maka hasil yang didapatkan dari perendaman ini adalah umumnya sampel kemasan plastik mengkerut setelah proses perendaman tetapi pada perendaman sampel kemasan indomilk dan kemasan lifebuoy tidak mengkerut. Warna tetap dan tidak lengket pada wadah perendaman untuk semua sampel yang diuji. Perendaman dengan asam ini dapat disimpulakan bahwa pada umumnya tidak merusak kemasan plastik tersebut.

Pada uji perendaman dengan basa yang menggunakan larutan NaOH 2M. Dari pengujian yang telah dilaksanakan didapatkan hasil dengan tekstur kemasan plastik yang licin pada setiap sampel kemasan dan juga tidak lengket pada wadha perendamannya. Pada sampel citra dan mie keriting, warna dari kemasan tersebut luntur sedangakan pada sampel lain tidak.

Perendaman dengan pelarut polar yang digunakan dalam uji ini adalah dietil eter. Dalam perendaman dengan pelarut polar ini didapatkan hasil yang hampir sama terhadap semua sampel kemasan plastik yang direndam. Prendaman dengan dietil eter ini menghasilkan kesat pada kemasan plastik namaun tidak merusak warna serta tidak lengket pada perendaman. Sedangkan pada sampel kemasan plastik yang tipis kemasan tersebut mengkerut setelah dilakukan perendaman. Hal yang dapat diambil dalam pengujian ini adalah pelarut polar bereaksi dengan bahan kimia dalam kemasan plastik menghasilkan tekstur yang kesat namun tidak merubah atau merusak struktur warna dari kemasan plastik tersebut.

Perendaman dengan pelarut non polar didapat hasil yaitu semua kemasan plastik yang dilakukan perendaman selama 24 jam  licin pada setiap sampel. Pada sampel mie keriting dan lifebuoy kemasan yang diamati lengket dengan wadah perendaman. Pada sampel citra sedikit mengkerut. Pada sampel indomilk label mengkerut sedangkan pada sampel lainnya tidak mengkerut. Warna kemasan yang luntur terdapat pada kemasan plastik mie keriting dan indomilk label sedangkan pada kemasan lainnya warnanya tetap. 

 

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah :

  1. Kemasan plastik memiliki banyak jenis dari sudut pandang polimer/bahan pembentuk kemasan plastik tersebut.
  2. Kemasan plastik dapat diklasifikasikan berdasarkan struktur sistem kemasnya ada kemasan primer dan kemasan sekunder.
  3. Terdapat perbedaan ketahanan dari setiap bahan pembentuk plastik, tergantung dari bahan/polimer penyusunnya
  4. Kemasan plastik dibuat berdasarkan sifat kepolaran produk yang akan dikemas.

 

Saran

Sebaiknya, dalam memilih suatu produk makanan yang ingin dikonsumsi, harus memperhatikan kemasan dari produk tersebut. Agar kita dapat memilih produk yang sehat dan sesuai dengan kebutuhan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Esti Rahayu1, Eny Widajati2*. 2007. Pengaruh Kemasan, Kondisi Ruang Simpan dan Periode Simpan terhadap Viabilitas Benih Caisin. Jurnal Penelitian Pertanian. Bul. Agron. (35) (3) 191 – 196 (2007)

 

Herni Susilowati, 2006. Kemasan Benih Kedelai Untuk Transportasi. Balai Besar-Ppmbtph, Tapos, Depok

 

Julianti, E dan Mimi, N. 2006. Teknologi Pengemasan. Laporan Penelitian.    Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

 

Millati, Tanwirul, dkk. 2010. Penuntun Praktikum Teknologi Pengemasan dan Penyimpanan. Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru

 

Rachmawan, Obien. 2001. Modul Dasar Pengeringan, Pendinginan dan Pengemasan Komoditas Pertanian. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta.

 

Syarief, R., S.Santausa, St.Ismayana B. 1989. Teknologi Pengemasan Pangan. Laboratorium Rekayasa Proses Pangan, PAU Pangan dan Gizi, IPB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s